Identifikasi Kebutuhan Pembelajaran (3)

Posted: Desember 31, 2013 in teknologi pembelajaran

Model Pengukuran Kebutuhan Belajar

Belajar pada hekekatnya mengandung makna terjadinya terjadinya perubahan tingkah laku pada diri anak berkat pengalaman dan latihan (Suharyono, 1991). Sehingga dapat diartikan bahwa belajar merupakan proses perubahan perilaku dari pengalaman dan pendidikan, perubahan perilaku yang awalnya tidak mengetahui atau tidak mengerti menjadi memahami suatu hal tertentu. Untuk mengetahui sejauh mana kebutuhan perubahan perillaku itu maka dibutuhkanlah pengukuran kebutuhan.

Model pengukuran kebutuhan belajar merupakan bentuk pengukuran terhadap hal-hal yang harus ada dan dibutuhkan dalam kegiatan belajar, yang disajikan oleh pendidik (guru) dan disesuiakan dengan program pembelajaran yang dilakukan. Terdapat tiga (3) model pengukuran dalam mengidentifikasi kebutuhan belajar, yaitu model induktif, model deduktif dan model klasik (Koufman, dalam Yayan, 2009 ).

  1. Model Induktif

Pendekatan yang digunakan dalam model Induktif menekankan pada usaha yang dilakukan dari pihak yang terdekat, langsung, dan bagian-bagian ke arah pihak yang luas, dan menyeluruh. Oleh karena itu, melalui pendekatan ini diusahakan secara langsung pada kemampuan yang telah dimiliki setiap peserta didik, kemudian membandingkannya dengan kemampuan yang diharapkan atau harus dimiliki sesuai dengan tuntutan yang datang kepada dirinya. Model ini digunakan untuk mengidentifikasi jenis kebutuhan belajar yang bersifat kebutuhan terasa (felt needs) atau kebutuhan belajar dalam pendidikan yang dirasakan langsung oleh peserta didik. Pelaksanaan identifikasinya pun harus dilakukan secara langsung kepada peserta didik itu sendiri. Model Induktif ini memiliki beberapa keuntungan, yaitu: 1). dapat diperoleh informasi yang langsung, 2). tepat mengenai jenis kebutuhan Peserta didik, sehingga memudahkan kepada guru (pendidik) untuk memilih materi belajar yang sesuai dengan kebutuhan tersebut. Namun, kelemahannya pun ada, yaitu; dalam menetapkan materi pendidikan yang bersifat menyeluruh, dan umum untuk peserta didik yang banyak dan luas akan membutuhkan waktu, dana, dan tenaga yang banyak. Karena setiap peserta didik yang mempunyai kecenderungan ingin atau harus belajar dimintai informasinya mengenai kebutuhan belajar yang mereka inginkan.

Model induktif memiliki langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Mulai dari pengukuran tingkah laku siswa pada saat sekarang
  2. Kemudian mengelaompokkan dalam kawasan program dari sudut tujuan (umum) yang diharapkan
  3. Harapan-harapan tersebut dibandingkan dengan tujuan yang besar yang ada pada kurikulum, baru lahirlah kesenjangan
  4. Untuk menyediakan program, maka disusun tujuan secara terperinci dalam program yang tepat, dilaksanakan, dievaluasi, dan direvisi.

Pelaksanaan pengukuran (assessment) kemampuan yang telah dimiliki calon peserta pelatihan disesuaikan dengan kondisi calon itu sendiri. Apabila calon sudah bisa membaca dan menulis, maka identifikasi dapat dilakukan melalui kegiatan pemberian angket, atau juga bisa melalui wawancara, dengan pokok-pokok pertanyaan diantaranya (contoh) : Kemampuan apa yang diinginkan untuk dipelajari pada kesempatan sekarang? atau Ingin belajar apa sekarang? Juga dapat dilakukan melalui pengajuan daftar isian atau kartu kebutuhan belajar. Calon peserta menjawab dan mengisi kuesioner pada bagian yang sudah disediakan. Begitu pula, apabila peserta pelatihan diberi kartu Kebutuhan Belajar, maka peserta pelatihan (sasaran) tinggal menuliskan jenis kemampuan yang ingin dipelajarinya pada kartu, yang telah disediakan.

Setelah memperoleh sejumlah kebutuhan belajar baik dari satu atau beberapa peserta, maka pendidik perlu menetapkan prioritas kebutuhan belajar. Penetapan prioritas ini dapat dilakukan pendidik bersama-sama peserta didik atau dilakukannya sendiri, yang kemudian diinformasikan lebih lanjut kepada peserta yang didasarkan kepada hasil jenis kebutuhan belajar yang diperoleh. Teknik yang digunakan untuk penetapan ini dapat dilakukan melalui diskusi, atau curah. pendapat, atau pasar data. Pengajuan prioritas dari setiap peserta pelatihan dibarengi dengan alasan-alasannya. Namun demikian, pada akhirnya penetapan prioritas ini perlu disesuaikan dengan berbagai macam kemungkinan dari segi bahan belajar, sumber belajar, waktu, serta sarana penunjang lainnya. Apabila pendidik sudah memperoleh penetapan prioritas, maka pendidik bertugas untuk mengembangkan materi pembelajaran, serta menyelenggarakan proses belajar.

  1. Model Deduktif

Pendekatan pada model ini dilakukan secara deduktif, dalam, pengertian bahwa identifikasi kebutuhan pembelajaran dilakukan secara umum, dengan sasaran yang luas. Apabila akan menetapkan kebutuhan belajar untuk peserta didik yang memiliki karakteristik yang sama, maka pelaksanaan identifikasinya dilakukan pengajuan pertimbangan kepada semua peserta didik (sasaran). Hasil identifikasi diduga dibutuhkan untuk keseluruhan peserta didik (sasaran) yang mempunyai ciri-ciri yang sama. Hasil identifikasi macam ini digunakan dalam menyusun materi belajar yang bersifat universal. Hal ini sebagaimana telah dilakukan dalam menetapkan kebutuhan belajar minimal untuk peserta didik dengan sasaran tertentu seperti melihat latar belakang pendidikan, usia, atau jabatan dll. Kemudian dikembangkan ke proses belajar dalam pembelajaran yang lebih khusus.

Keuntungan dari tipe ini adalah bahwa hasil identifikasi dapat diperoleh dari sasaran yang luas, sehingga ada kecenderungan penyelesaiannya menggunakan harga yang murah, dan relatif lebih efesien dibanding dengan tipe induktif, karena informasi kebutuhan belajar yang diperoleh dapat digunakan untuk penyelenggaraan proses belajar dalam pelatihan secara umum. Namun demikian, model ini mempunyai kelemahan dari segi efektifitasnya, karena belum tentu semua peserta didik (sasaran) diduga memiliki karakteristik yang sama akan memanfaatkan, dan membutuhkan hasil identifikasi tersebut. Hal ini didasarkan atas kenyataan bahwa keanekaragaman peserta didik cenderung memiliki minat dan kebutuhan belajar yang berbeda.

Kebutuhan belajar hasil identifikasi model deduktif termasuk jenis kebutuhan terduga (expected needs), dalam pengertian bahwa peserta didik pada umumnya diduga membutuhkan jenis kebutuhan belajar tersebut. Hal menarik bahwa, pernyataan jenis kebutuhan bisa tidak diungkapkan oleh diri peserta didik secara langsung, akan tetapi oleh pihak lain yang diduga memahami tentang kondisi peserta didik. Oleh karena itu, mengapa banyak terjadi “Drop out dalam pembelajaran”, atau kebosanan belajar, tidak adanya motivasi, malas, karena ada kecenderungan bahan belajar yang dipelajarinya dalam pembelajaran kurang sesuai dengan kebutuhan belajar yang dirasakannya.

Model deduktif memilki langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Dimulai dari tujuan umum berupa pernyataan hasil belajar yang diharapkan
  2.  Kembangkan ukuran / kriteria untuk mengukur tingkah laku tertentu
  3. Kumpulkan data untuk mengetahui adanya kesenjangan
  4. Atas dasar kesenjangan – kesenjangan tersebut disusun tujuan khusus secara detail
  5.  Program dikembangkan, dilaksanakan, dan di evaluasi
  6. Model Klasik

Model klasik ini ditujukan untuk menyesuaikan bahan belajar yang telah ditetapkan dalam kurikulum atau program belajar dengan kebutuhan belajar yang dirasakan peserta (sasaran). Berbeda dengan model yang pertama, pada model ini pendidik telah memiliki pedoman yang berupa kurikulum, misalnya; Kurikulum pelatihan prajabatan, kurikulum pelatihan kepemimpinan, satuan pelajaran dalam pelatihan, modul, hand-out dll. Identifikasi kebutuhan belajar dilakukan secara terbuka dan langsung kepada peserta didik (sasaran) yang sudah ada di kelas. Pendidik mengidentifikasi kesenjangan di antara kemampuan yang telah dimiliki peserta didik dengan bahan belajar yang akan dipelajari. Tujuan dari model klasik ini adalah untuk mendekatkan kemampuan yang telah dimiliki dengan kemampuan yang akan dipelajari, sehingga peserta pelatihan didik tidak akan memperoleh kesenjangan dan kesulitan dalam mempelajari bahan belajar yang baru. Keuntungan dari model ini adalah untuk memudahkan peserta didik dalam mempelajari bahan belajar, di samping kemampuan yang telah dimiliki akan menjadi modal untuk memahami bahan belajar yang baru. Kelemahannya adalah bagi peserta didik yang terlalu jauh kemampuan dasarnya dengan bahan belajar yang akan dipelajari menuntut untuk mempelajari terlebih dahulu kesenjangan kemampuan tersebut, sehingga dalam mempelajari kebutuhan belajar yang diharapkannya membutuhkan waktu yang lama.

Kegiatan identifikasi kebutuhan belajar model klasik ini dilakukan pendidik kepada peserta didik, dengan cara pemberian tes, wawancara, atau kartu kebutuhan belajar, untuk menetapkan kemampuan awal peserta (entry behavior level). Selanjutnya, kemampuan awal tersebut dibandingkan dengan susunan pengetahuan yang terdapat dalam materi (modul, satpel dll) yang sudah ada. Apabila pendidik memperoleh hasil bahwa kemampuan peserta didik di bawah batas awal bahan belajar yang terdapat pada program belajar, maka peserta didik perlu memberikan supplement terlebih dahulu, sampai mendekati batas bahan pelatihan yang akan dipelajari. Namun, apabila pendidik memperoleh hasil bahwa kemampuan awal sudah berada pada pokok bahasan yang ada pada program, maka peserta pembelajaran bertugas untuk menetapkan strategi belajar dalam pelatihan yang tepat untuk membelajarkan peserta dari pokok bahasan pertama. Penetapan metode belajar ini ditujukan untuk menghilangkan kebosanan pada diri peserta.

 

Kesimpulan

Identifikasi kebutuhan pembelajaran adalah kegiatan atau usaha yang dilakukan untuk meneliti dan menemukan hal-hal yang diperlukan dalam pembelajaran dan hal-hal yang dapat membantu tercapainya tujuan pembelajaran. Mengidentifikasi kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas sekarang yaitu masalah apa yang mempengaruhi hasil pembelajaran. Untuk mendapat identifikasi yang tepat untuk proses pembelajatan adalah dengan melakukan analisa kebutuhan fungsi analisa itu sendiri adalah untuk mengidentifikasi kebutuhan mendesak, menyajikan prioritas dan efektifitas pembelajaran. Analisa kebutuhan dilakukan dalam 4 tahapan yaitu tahap perencanaan, pengumpulan data, analisa data dan penyusunan laporan.

Untuk lebih dapat memperoleh hasil yang sesuai kebutuhhan maka indentifikasi harus dilakukan dengan menggunakan model pengukuran kebutuhan belajar. Ada 3 (tiga) model pengukuran belajar yaitu: model indukif, model deduktif, dan model klasik.

 

Daftar pustaka

 

Abidin, zaenal. Analisis Kebutuhan Pembelajaran dan Analisis Pembelajaran dalam Desain Sistem Pembelajaran. Jurnal Fakultas Agama Islam. Volume : 19. Halaman : 61-72. 2007

Dick, Walter. 2001, The Systemic Design of Instruction, New York, Longman.

Emirita. 2011. Identifikasi Kebutuhan Belajar.http://bukuharianbarbie.blogspot.com/ 2011/05/identifikasi-kebutuhan-belajar.html. Diakses tanggal : 9 september 2012.

Gary. R, Morrison, Steven M, Ross, Jerrold E Kemp, 2001, Designing Effective Instructio, Third Edition, USA, John Wiley and Sons, inc printed in the.

Jumali dkk, 2004, Landasan Pendidikan, Surakarta, Muhammadiyah University Press UMS.

Sugihartono dkk, 2007, Psikologi Pendidikan, Yogyakarta, UNY Press

Suharyono, 1991, Strategi Belajar Mengajar I, Semarang, IKIP Semarang Press.

Suparman, M. Atwi 2001, Desain Instruksional, Jakarta., PAU-PPAI Universitas Terbuka.

Uno, Hamzah B. 2006. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif, Jakarta, Bumi Aksara

Yayan, 2009, Kebutuhan Belajar Masyarakat, http://kebutuhanbelajar.blogspot.com/ diakses tanggal : 9 September 2012

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s