PROBLEM BASED LEARNING (PBL)

Posted: Oktober 18, 2013 in teknologi pembelajaran

Problem Based Learning atau pembelajaran berbasis masalah adalah suatu pendekatan pembe­lajaran yang menggunakan masalah dunia nyata se­bagai suatu konteks bagi peserta didik untuk bela­jar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pe­mecahan masalah, serta untuk memperoleh penge­tahuan dan konsep yang esensial dari materi kuli­ah atau materi pelajaran.

Landasan teori PBL adalah kolaborativisme, suatu perspektif yang berpendapat bahwa mahasis­wa akan menyusun pengetahuan dengan cara mem­bangun penalaran dari semua pengetahuan yang su­dah dimilikinya dan dari semua yang diperoleh se­bagai hasil kegiatan berinteraksi dengan sesama in­dividu. Hal tersebut juga menyiratkan bahwa pro­ses pembelajaran berpindah dari transfer informasi fasilitator-mahasiswa ke proses konstruksi pengeta­huan yang sifatnya sosial dan individual.

PBL memiliki gagasan bahwa pembelajaran dapat dicapai jika kegiatan pendidikan dipusatkan pada tugas-tugas atau permasalahan yang otentik, relevan, dan dipresentasikan dalam suatu konteks. Cara tersebut bertujuan agar mahasiswa memiliki pengalaman sebagaimana nantinya mereka meng­hadapi kehidupan profesionalnya. Perta­nyaan, pengalaman, formulasi, serta penyusunan konsep tentang permasalahan yang mereka cipta­kan sendiri merupakan dasar untuk pembelajaran. Aspek penting dalam PBL adalah bahwa pembela­jaran dimulai dengan permasalahan dan permasala­han tersebut akan menetukan arah pembelajaran dalam kelompok. Dengan membuat permasalahan sebagai tumpuan pembelajaran, para mahasiswa di­dorong untuk mencari informasi yang diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan. Salah satu keuntungan PBL adalah para mahasiswa didorong untuk mengeksplorasi pengetahuan yang telah dimilikinya kemudian mengembangkan keteram­pillan pembelajaran yang independen untuk meng­isi kekososongan yang ada. Hal tersebut merupa­kan pembelajaran seumur hidup karena keterampil­an tersebut dapat ditransfer ke sejumlah topik pem­belajaran yang lain, baik di dalam maupun di luar universitas. Dengan PBL yang memfokuskan pada permasalahan yang mampu membangkitkan penga­laman pembelajaran maka mahasiswa akan menda­pat otonomi yang lebih luas dalam pembelajaran. Oleh karena itu perancangan permasalahan perlu dilakukan dengan sangat hati-hati untuk meyakin­kan bahwa sebagian besar tujuan perkuliahan dapat tercapai.

PENGEMBANGAN TUJUAN

Dalam PBL, tujuan adalah sangat penting ka­rena menyangkut formulasi permasalahan, tujuan pembelajaran mahasiswa, dan penilaian. Salah satu cara untuk mengembangkan tujuan adalah menya­takan segala sesuatu yang harus dimiliki oleh para mahasiswa setelah selesai mengikuti kuliah dalam hal pengetahuan (berkaitan dengan kandungan ma­ta kuliah), keterampilan (berkaitan dengan kemam­puan mahasiswa mulai dari mengajukan pertanya­an, penyusunan esai, searching basis data, dan pre­sentasi makalah), dan sikap (berkaitan dengan pe­mikiran kritis, keaktifan mendengar, sikap terhadap pembelajaran, dan respeknya terhadap argumentasi mahasiswa lain).

FORMULASI PERMASALAHAN

Formulasi permasalahan merupakan kunci keberhasilan PBL. Untuk mengembangkan perma­salahan perlu diperhatikan beberapa aspek. Maha­siswa memerlukan informasi yang lebih banyak da­ripada yang telah dipresentasikan. Informasi yang tidak lengkap akan menyadarkan mereka apa yang sesungguhnya terjadi dan membantu mereka me­nentukan tindakan apa saja yang harus diambil untuk menyelesaikan permasalahan.

Tidak ada formula yang pasti untuk melaku­kan investigasi, karena satu permasalahan dan per­masalahan lain memiliki perbedaan. Permasalahan akan mengalami perubahan saat ada tambahan in­formasi. Para mahasiswa membuat keputusan serta memberikan penyelesaian pada permasalahan yang real. Hal tersebut akan membawa pada kenyataan bahwa mungkin jawaban yang ‘benar’ tidak hanya satu.

Dari sisi dosen, PBL mendukung pembelaja­ran yang open-mind, reflektif, kritis, dan aktif. Da- lam PBL, peran dosen/guru berubah dari penyedia fakta menjadi fasilitator lingkungan pembelajaran dan membangun komunitas pembelajaran. Konsep tersebut secata etis maupun moral sangat baik kare­na memberikan respect pada dosen maupun maha­siswa sebagai individual dengan pengetahuan, pe­mahaman, dan minat yang sama, yang bergabung dalam suatu wadah untuk berbagi pengetahuan da­lam satu proses pembelajaran. Penerapan PBL di­mulai pada beberapa mata kuliah secara parsial dan dalam perjalanannya dikembangkan dengan meng­integrasikan beberapa mata kuliah sebagai kelom­pok dengan sebuah skenario PBL.

Tidak semua mata kuliah atau mata pelajaran dalam kurikulum dimungkinkan untuk dilaksana­kan dengan metode PBL. Mata kuliah tingkat lan­jut lebih cocok diajarkan dengan metode PBL kare­na dalam PBL pembelajaran mahasiswa dilakukan dengan cara membangun penalaran dari semua pe­ngetahuan yang sudah dimiliki mahasiswa dan dari semua yang diperoleh sebagai hasil kegiatan berin­teraksi dengan sesama individu. Mata kuliah yang sangat relevan dilaksanakan dengan metode PBL adalah mata kuliah kelompok Mata Kuliah Keahli­an Berkarya (MKB). Mata kuliah selain kelompok MKB tetap perlu ditingkatkan untuk mendukung pelaksanaan mata kuliah ber-PBL dan mendukung paradigma student-centered learning. Proses pem­belajaran dalam mata kuliah tersebut ditingkatkan dengan mengadopsi pilar student-centered learn­ing.

 

Langkah – Langkah PBL

  1. Mahasiswa diberi permasalahan oleh Dosen.
  2. Mahasiswa melakukan diskusi dalam kelompok kecil dan melakukan hal-hal berikut.
  3. Mengklarifikasi kasus permasalahan yang diberikan
  4. Mendefinisikan masalah
  5. Melakukan tukar pikiran berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki
  6. Menetapkan hal-hal yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah
  7. Menetapkan hal-hal yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah
  8. Mahasiswa melakukan kajian secara independen berkaitan dengan masalah yang harus diselesaikan. Mereka dapat melakukannya dengan cara mencari sumber di perpustakaan, database, internet, sumber personal atau melakukan observasi
  9. Mahasiswa kembali kepada kelompok PBM semula untuk melakukan tukar informasi, pembelajaran teman sejawat, dan bekerjasama dalam menyelesaikan masalah.
  10. Mahasiswa menyajikan solusi yang mereka temukan
  11. Mahasiswa dibantu oleh Dosen melakukan evaluasi berkaitan dengan seluruh kegiatan pembelajaran. Hal ini meliputi sejauhmana pengetahuan yang sudah diperoleh oleh siswa serta bagaiman peran masing-masing siswa dalam kelompok. [soepri[

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s