Keberhasilan Pembelajaran

Posted: Oktober 18, 2013 in teknologi pembelajaran

Pengertian Keberhasilan
Untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dikatakan berhasil, setiap pendidik memiliki pandangan masing-masing sejalan dengan filsafatnya.
Untuk mengetahui tercapai tidaknya TIK, pendidik perlu mengadakan tes formatif setiap selesai menyajikan satu bahasa kepada siswa. Penilaian formatif ini untuk mengetahui sejauh mana siswa telah menguasai Tujuan Instruksional Khusus (TIK) yang ingin dicapai. Fungsi penilaian ini adalah untuk memberikan umpan balik kepada pendidik dalam rangka memperbaiki proses belajar mengajar dan melaksanakan program remedial bagi siswa yang belum berhasil.

Indikator Keberhasilan

Yang menjadi petunjuk bahwa suatu proses belajar mengajar dianggap berhasil adalah hal-hal sebagai berikut:
1. Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik sebacara individual maupun kelompok.
2. Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran/instruksional khusus (TIK) telah dicapai oleh siswa, baik secara individual maupun kelompok.

Penilaian Keberhasilan
Untuk mengukur dan mengevaluasi tingkat keberhasilan belajar tersebut dapat dilakukan melalui tes prestasi belajar. Berdasarkan tujuan dan ruang lingkupnya, tes prestasi belajar dapat digolongkan ke dalam jenis penilaian sebagai berikut:

Tes Formatif
Penilaian ini digunakan untuk mengukur satu atau beberapa pokok bahasan tertentu dan bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang daya serap siswa terhadap pokok bahasan tersebut. Hasil tes ini dimanfaatkan untuk memperbaiki proses belajar mengajar bahan tertentu dalam waktu tertentu.

Tes Subsumatif
Tes ini meliputi sejumlah bahan pengajaran tertentu yang telah diajarkan dalam waktu tertentu. Tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran daya serap siswa untuk meningkatkan tingkat prestasi belajar siswa. Hasil tes subsumatiif ini diimanfaatkan untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan diperhitungkan dalam menentukan nilai rapor.

Tes Sumatif
Tes ini diadakan untuk mengukur daya serap siswa terhadap bahan pokok-pokok bahasan yang telah diajarkan selama satu semester, satu atau dua tahun pelajaran. Tujuannya adalah untuk menetapkan tingkat atau taraf keberhasilan belajar siswa dalam suatu periode belajar tertentu. Hasil dari tes sumatif ini dimanfaatkan untuk kenaikan kelas, menyusun peringkat (ranking) atau sebagai ukuran mutu sekolah.

Tingkat Keberhasilan
Setiap proses belajar mengajar selalu menghasilkan hasil belajar. Masalah yang dihadapi adalah sampai di tingkat mana prestasi (hasil) belajar yang telah dicapai. Tingkatan keberhasilan tersebut adalah sebagai berikut:
Istimewa/maksimal : Apabila seluruh bahan pelajaran yang diajarkan itu dapat dikuasai oleh siswa
Baik Baik sekali/optimal :Apabila sebagian besar (76% s.d 99%) bahan pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai oleh siswa
Baik Baik/minimal Apabila bahan pelajaran yang diajarkan hanya 60% s.d 75% saja dikuasai oleh siswa
Kurang Apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 60% dikuasai oleh siswa
Dengan melihat data yang terdapat dalam format daya serap siswa dalam pelajaran dan persentase keberhasilan siswa dalam mencapai TIK tersebut, dapatlah diketahui keberhasilan proses belajar mengajar yang telah dilakukan siswa dan pendidik.

Program Perbaikan
Taraf atau tingkatan keberhasilan proses belajar mengajar dapat dimanfaatkan untuk berbagai upaya.
Pengukuran tentang taraf atau tingkatan keberhasilan proses belajar mengajar ini ternyata berperan penting. Karena itu, pengukurannya harus betul-betul syahih (valid), andal (reliable), dan lugas (objective). Hal ini mungkin tercapai bila alat ukurannya berdasarkan kaidah, aturan, hokum atau ketentuan penyusunan butir tes.
Pengajaran perbaikan biasanya mengandung kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a. Mengulang pokok bahasan seluruhnya
b. Mengulang bagian dari pokok bahasan yang hendak dikuasai
c. Memecahkan masalah atau menyelesaikan soal-soal bersama-sama
d. Memberikan tugas-tugas khusus

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan
Faktor Tujuan
Tujuan adalah pedoman sekaligus sebagai sasaran yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Tercapainya tujuan sama halnya keberhasilan pengajaran.
Sedikit banyaknya perumusan tujuan akan mempengaruhi kegiatan pengajaran yang dilakukan oleh pendidik, dan secara langsung pendidik mempengaruhi kegiatan belajar peserta didik. Pendidik dengan sengaja menciptakan lingkungan belajar guna mencapai tujuan. Jika kegiatan belajar peserta didik dan kegiatan mengajar pendidik bertentangan, dengan sendirinya tujuan pengajaran pun gagal untuk dicapai.
Karena sebagai pedoman sekaligus sebagai sasaran yang akan dicapai dalam setiap kali kegiatan belajar mengajar, maka pendidik selalu diwajibkan merumuskan tujuan pembelajarannya.
Faktor Pendidik
Pendidik adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada peserta peserta didik di sekolah. Pendidik adalah orang yang berpengalaman dalam bidang profesinya. Dengan keilmuan yang dimilikinya, dia dapat menjadikan peserta didik menjadi orang yang cerdas.
Setiap pendidik mempunyai kepribadian masing-masing sesuai dengan latar belakang kehidupan sebelum mereka menjadi pendidik. Kepribadian pendidik diakui sebagai aspek yang tidak bias dikesampingkan dari kerangka keberhasilan belajar mengajar untuk mengantarkan peserta didik menjadi orang yang berilmu pengetahuan dan berkepribadian.
Pendidik yang bukan berlatar belakang pendidikan kependidikan dan ditambah tidak berpengalaman mengajar, akan banyak menemukan masalah di kelas.

Faktor Peserta Didik
Peserta didik adalah orang yang dengan sengaja datang ke sekolah. Orang tuanyalah yang memasukkannya untuk dididik agar menjadi orang yang berilmu pengetahuan di kemudian hari.
Tanggung jawab pendidik tidak hanya terdapat seorang anak, tetapi dalam jumlah yang cukup banyak. Kepribadian mereka ada yang pendiam, ada yang periang, ada yang suka bicara, ada yang kreatif, ada yang keras kepala, ada yang manja, dan sebagainya.
Dengan demikian, dapat diyakini bahwa peserta didik adalah unsure menusiawi yang mempengaruhi kegiatan belajar mengajar berikut hasil dari kegiatan itu, yaitu keberhasilan belajar mengajar.
Faktor Kegiatan Pengajaran
Pola umum kegiatan pengajaran adalah terjadinya interaksi antara pendidik dengan peserta didik dengan bahan sebagai perantaranya. Pendidik yang mengajar, peserta didik yang belajar. Maka pendidik adalah orang yang menciptakan lingkungan belajar bagi kepentingan belajar peserta didik. Peserta didik adalah orang yang digiring ke dalam lingkungan belajar yang telah diciptakan oleh pendidik.
Strategi penggunaan metode mengajar amat menentukan kualitas hasil belajar mengajar. Hasil pengajaran yang dihasilakan dari penggunaan metode ceramah tidak sama dengan hasil pengajaran yang dihasilkan dari penggunaan metode Tanya jawab atau metode diskusi.

Faktor Bahan dan Alat Evaluasi
Bahan evaluasi adalah suatu bahan yang terdapat didalam kurikulum yang sudah dipelajar oleh peserta didik guna kepentingan ulangan. Biasanya bahan pelajaran itu sudah dikemas dalam bentuk buku paket untuk dikonsumsi oleh peserta didik. Setiap peserta didik dan pendidik wajib mempunyai buku paket tersebut guna kepentingan kegiatan belajar mengajar di kelas.
Alat-alat evaluasi yang umumnya digunakan tidak hanya benar-salah (true-false) dan pilihan ganda (multiple-choice), tapi juga menjodohkan (matching), melengkapi (completion), dan essay.

Faktor Suasana Evaluasi
Selain faktor tujuan, pendidik, peserta didik, kegiatan pengajaran, serta bahan dan alat evaluasi, factor suasana evaluasi juga merupakan factor yang mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar. Pelaksanaan evaluasi biasanya dilaksanakan di dalam kelas. Semua peserta didik dibagi menurut kelas masing-masing. Kelas I, kelas II dan kelas III dikumpulkan menurut tingkatan masing-masing. Besar kecilnya jumlah peserta didik yang dikumpulkan di dalam kelas akan mempengaruhi suasana kelas. Sekaligus mempengaruhi suasana evaluasi yang dilaksanakan.
Sikap yang merugikan pelaksanaan evaluasi dari seorang pengawas adalah membiarkan peserta didik melakukan hubungan kerja sama di antara peserta didik. Pengawas seolah-olah tidak mau tau apa yang dilakukan oleh peserta didik selama ulangan. Tidak peduli apakah peserta didik nyontek, membuka kertas kecil yang berisi catatan yang baru diambil dari balik pakaian, atau membiarkan peserta didik bertanya jawab dalam upaya mendapatkan jawaban yang benar. Lebih merugikan lagi adalah sikap pengawas yang dengan sengaja menyuruh peserta didik membuka buku atau catatan untuk mengatasi ketidakberdayaan peserta didik dalam menjawab item-item soal.
Suasana evaluasi yang demikian tentu saja, disadari atau tidak, merugikan peserta didik untuk bersikap jujur dengan sungguh-sungguh belajar dirumah dalam mempersiapkan diri menghadapi ulangan. [soepri]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s