Peer Educator, Peran dalam Advokasi Kesehatan Reproduksi (3)

Posted: Januari 12, 2012 in pendidikan seks

Peer Educator dan Advokasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi menjadi Kurikulum Muatan Lokal di Sekolah.

Peer education adalah suatu prinsip yang bekerja dari remaja, untuk remaja, dan oleh remaja sehingga program peer education dengan peer educator sebagai aktornya sangat efektif untuk mendorong keterlibatan remaja dalam kerja-kerja untuk remaja sendiri. Disebutkan diatas bahwa dorongan sesama remaja sangat dominan dalam pola-pola perilaku diantara remaja sendiri, disamping itu sampai saat hanya teman sebayalah yang dianggap oleh remaja yang mampu menjadi tempat berlabuh dari berbagai macam persoalan. Pada awalnya Peer Educator dibentuk dan dilatih untuk kerja-kerja pemberian informasi dan bantuan konseling bagi remaja sebayanya. Maka untuk kepentingan itu dibutuhkan potensi remaja yang memiliki latar dan kemampuan komunikasi, ketertarikan, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi.


Demikian program diselenggarakan di sekolah dengan fasilitasi Peer Educator lingkup kerja yang dilakukan seputar memberikan informasi kepada teman-teman sebaya dan memberikan solusi ketika teman remaja yang mempunyai masalah. Dalam kurun PKBI DIY menjalankan program ini, banyak hasil yang dicapai terlebih pada sekolah-sekolah yang pendampingapnya bertahan cukup lama. Dari sekolah itu akan muncul kepedulian antar remaja untuk menyusun kegiatan-kegiatan di intern sekolah masing-masing. Mading dan buletin menjadi dominan kegiatan yang diminati oleh remaja, karena sederhananya kegiatan tersebut serta banyak diminati remaja dengan secara bebas bereksperimentasi kreatifitas baik tata letak, tata tulis ataupun ide isinya. Kegiatan lain juga menjadi wilayah ketertarikan peer educator adalah diskusi kecil dengan beberapa orang di waktu istirahat ataupun waktu luang lainnya bahkan ada beberapa sekolah yang terprogram masuk kelas untuk berceramah. Sekali waktu peer educator melakukan kegiatan diluar sekolah dengan memanfaatkan hari libur
Program yang dikembangkan peer educator tersebut merupakan bentuk konsekuensi dari pelatihan yang cenderung penguatan kepada remaja ke sesama remaja saja. Pelatihan peer educator dimasa itu lebih meningkatkan kapasitas diri remaja yang tergabung program peer education, warna pelatihanpun cenderung ke arah skill remaja untuk berkomunikasi dengan remaja lain, menguatkan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, infeksi menular seksual, HIV-AIDS, dan pengetahuan sejenisnya. Pada posisi dorongan pasca pelatihan masih pada bagaimana remaja yang lain tahu tentang informasi kesehatan reproduksi dengan beban dan tanggung jawab pada peer educator. Untuk lintas sekolah antar peer educator diorganisir sebagai bentuk wadah forum komunikasi, yang bertujuan untuk memberikan ruang diskusi saling tukar pengalaman antar sekolah yang memiliki program peer educator untuk berbagi pengalaman dan solusi.
Sudah barang tentu sekolah yang merasa pendidikan kesehatan reproduksi bermakna maka dukunganpun akan mengalir, tetapi bila sekolah merasa tidak membutuhkan pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi maka peran sekolahpun menjadi nihil atau bahkan sampai bahkan merasa terganggu.
Kalau boleh disampaikan secara sederhana, pendekatan awal program peer education merupakan pendekatan strategi yang mendorong remaja untuk mengintervensi remaja lainnya sebagai bentuk wilayah eksistensi dan serta peran serta remaja.
Walaupun hingar bingar kesehatan reproduksi di sekolah sudah banyak di akui banyak orang telah mewarnai kancah strategi program dalam wilayah penanggulangan HIV-AIDS, penanggulangan NAPZA, serta dapat mengurangi kenakalan remaja di sekolah, dan memunculkan remaja untuk bertanggung jawab. Namun demikian dorongan untuk menarik wacana kesehatan reproduksi menjadi tanggung jawab pihak sekolah serta penyelenggara negara belum dapat dilakukan, disini timbul kelemahan bahwa pemenuhan hak informasi remaja tentang kesehatan reproduksi dipenuhi oleh remaja sendiri dan bukan oleh pemerintah sebagai penyelenggara negara. Sehingga banyak timbul partisipasi guru di sekolah rendah, mengangkat lebih tinggi agar pendidikan kesehatan reproduksi diajar oleh guru menjadi susah karena masih terjebak menjadi tugas peer educator di sekolah atau kebijakan yang atas tidak memayungi. [soepri]…. bersambung

Komentar
  1. mukhotib md mengatakan:

    Horas…., Sinewun….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s