Peer Educator, Peran dalam Advokasi Kesehatan Reproduksi (1)

Posted: Desember 31, 2011 in pendidikan seks

Remaja dan Kesehatan Reproduksi                                 

Kelompok usia remaja secara definitif masih mengalami perdebatan, remaja sering didefiniskan sebagai masa transisi dari anak-anak menuju masa dewasa. Masa itu mencakup sekian perubahan pada beberapa aspek seperti aspek biologis, mental dan sosio-kultural. WHO mendefinisikan masa remaja sebagai sebuah perkembangan karakteristik seksual sekunder menuju pada pematangan alat reproduksi, perkembangan proses mental dan identitas remaja dan merupakan transisi dari ketergantungan sosial-ekonomi  menuju keadaan yang relatif mandiri (WHO, 1975 cited in Population Reports, 1995:3). Secara biologis, seseorang  yang sudah mengalmi masa puberts akan dengan serta merta dikatakan sebagai remaja. Karena batas untuk mengahiri masa remaja tidak begitu jelas, maka beberapa faktor sosial terkadang  dijadikan ukuran berakhirnya masa remaja menuju masa dewasa.. faktor sosial ini  antara lain pernikahan,  pekerjaan dan, karenanya, kemandirian secara ekonomi. Pada kenyatannya, seseorang akan dikatakan sesudah dewasa kebanyakan dengan ukuran perkawinan.

Realitas Indonesia mengatakan bahwa remaja yang berumur 10 – 24 tahun merupakan kelompok terbesar. Sensus tahun 1980 dan 2000 memperlihatkan bahwa kelompok ini mencapai 31 % dari  total penduduk Indonesia. Sebagaimana yang juga  dijumpai di negara Asia yang lain, remaja di Indonesia juga mengalami perubahan yang cepat pada wilayah sosial, buaya dan dermografi. Lebh dari 2 dekade,  proporsi remaja berumur 15 – 24 tahun yang mengenyam pendidikan meningkat dari 19 % pada tahun 1980 menjadi 20 % pada tahun 2000. sejalan dengan perkembangan tingkat pendidikan ini, angka pasangan yang baru menikah berumur 15 – 49 tahun meningkat dari 20 % pada tahun 1980 menjadi 23 % pada atahun 2000. (BPS, 2001). sebagai akibatnya,  angka remaja yang  belum menikah meningkat  dari 39 % yang berumur 15 – 24 pada tahun 1980 menjadi 45 % pada tahun 2000. Hal ini merupakan perubahan yang penting, seiring dengan  urbanisasi dan ledakan arus informasi yang kelewat batas, turut pula meningkatkan potensi remaja pada resiko-resiko yang berkaitan  dengan kesehatan reproduksi.

Persoalan remaja sangat mendominasi wacana publik dalam kurun beberapa dasawarsa ini, baik yang didominasi tentang dorongan untuk memajukan prestasi sampai dengan pencibiran atas kerja-kerja remaja yang tiada hasil. Dominasi sangat kental bila kemudian publik berbicara masalah kenakalan remaja, banyak pihak-pihak yang kemudian banyak menyalahkan individu remaja itu sendiri, orang tua, sekolah, lingkungan masyarakat bahkan sampai sistem negara kita yang tidak mendukung akan potensi remaja. Persoalan remaja akan mengkerucut dan dilematis mana kala masuk dalam kerangka kesehatan reproduksi, tingginya kasus HIV – AIDS yang disebabkan karena pengguna narkoba jarum suntik dan kelompok remajalah yang mendominasi. Kasus kehamilan yang tidak dikehendaki yang dialami remaja sering kali berujung pada kematian saat jalan yang ditempuh adalah aborsi yang tidak aman.

Pemahaman remaja tentang seksualitas pada umumnya rendah. Remaja juga banyak yang memiliki pemahaman yang keliru tentang seksualitas. Survei yang dilakukan Population Council menemukan bahwa 46,2% remaja masih menganggap perempuan tidak akan hamil hanya dengan sekali melakukan hubungan seks. Dari survei yang sama juga ditemukan bahwa hanya 19,2% remaja yang menyadari resiko untuk tertular Penyakit Menular Seksual (PMS) bila memiliki pasangan lebih dari satu. Hanya separo (51%) yang mengira akan beresiko tertular AIDS hanya bila berhubungan dengan Pekerja Seks.

Persoalan remaja terkait dengan kesehatan reproduksi yang rumit tidak dapat disikapi atau diberi solusi yang tergesa-gesa. Peran orang tua, guru, tokoh agama, dan pemerintah sangat penting. Namun demikian, sampai saat ini solusi-solusi yang diberikan mereka terkait dengan kesehatan reproduksi masih sangat minim dan belum memuaskan. Orang tua banyak yang kurang peduli dan atau masih menganggap tabu, guru yang juga masih menganggap tabu. Tokoh agama lebih banyak mengajarkan larangan tanpa ada solusi logis. Pemerintah kurang peduli dan menganggap permasalahan kesehatan reproduksi bagi remaja bukan merupakan permasalahan yang penting dan perlu diprioritaskan. Sikap-sikap dari pihak-pihak di atas menyebabkan remaja gagal mendapatkan informasi yang benar mengenai kesehatan reproduksi. Kegagalan mendapatkan informasi yang benar semakin didukung dengan mudahnya akses informasi misalnya melalui internet. Akses informasi yang semakin mudah tanpa ada “saringan” dari pihak-pihak yang terkait (orang tua, guru, tokoh agama, pemerintah) semakin membuat remaja keliru dalam memahami kesehatan reproduksi bagi kehidupannya.

Pendidikan dan layanan kesehatan reproduksi bagi remaja merupakan hal yang sangat penting untuk mengurangi resiko KTD, aborsi, ataupun penyebaran HIV/AIDS. Saat ini sudah banyak negara yang menerapkan pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah. Di Asia guru seringkali memfokuskan pelajaran pada unsur kesehatan dan biologis. Unsur seksualitas yang tak kalah pentingnya kurang begitu dibahas karena guru seringkali khawatir hal tersebut malah akan mendorong remaja untuk berhubungan seksual. Selain itu di banyak negara Asia, seks adalah hal yang masih dianggap tabu jika dibicarakan secara umum karena faktor sosial, budaya, dan agama.

Sementara banyak yang menyepakati bahwa dorongan remaja melakukan hal yang positf atau negatif sebagian besar karena dorongan dari teman sebayanya disamping, keluarga juga karena ruang sistem penyelenggara negara.  Peer Pressure sebenarnya konsekuensi logis atas interaksi yang dibangun remaja dengan teman-temannya. Peer pressure ini bisa berasal dari teman sekolah, teman les, atau teman bermain atau bergaul dimana tempat.

Maka dorongan beberapa pihak sebagai solusi adalah program yang sistematis untuk penanggulangan kenakalan remaja dengan pelibatan remaja itu sendiri disamping beberapa program lainnya.

Menanggapi persoalan remaja yang kompleks, Hasltead dan Reis (2004) mengatakan bahwa pendidikan kesehatan reproduksi sudah saatnya diberikan pada remaja, bahkan harus sudah diberikan pada anak-anak sejak dini. Hal ini tidak saja berpengaruh pada aspek psikologis, akan tetapi juga akan bisa memberikan informasi pada anak dan remaja tentang perilaku seksual yang beresiko serta persoalan kekerasan seksual [soepri]”…(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s