Remaja dan Kesehatan Reproduksi

Posted: Februari 17, 2010 in pendidikan seks

Definisi dan Tugas Perkembangan Remaja

Dalam definisi WHO masa remaja (adolesence) mulai usia 10-19 th, masa muda (youth) usia 15-24 tahun. Sedangkan definisi remaja untuk masyarakat Indonesia menurut Sarwono (2002) adalah individu yang berusia 11-24 tahun dan belum menikah. Namun jika pada usia remaja seseorang sudah menikah, maka ia tergolong dalam dewasa atau bukan lagi remaja.
Masa remaja merupakan masa yang sangat peka, atau sering di sebut pada situasi topan dan badai dalam kehidupan perasaan dan emosinya. Keadaan semacam ini sering diistilahkan sebagai “strom and stress”. Tidaklah mengherankan apabila sikap dan sifat remaja yang sesekali sangat bersemangat tetapi suatu ketika berubah menjadi lesu. Kegembiraan yang seketika dapat berubah menjadi sedih, rasa percaya diri seketika dapat menjadi ragu dan putus asa, yang berakibat untuk lanjutan pendidikan serta cita-cita hidup menjadi sulit untuk ditentukan. Lebih-lebih pada persoalan ketertarikan pada lain jenis dari awal persahabatan menjadi percintaan yang belum sungguh, yang sering orang menyebut dengan cinta monyet.

Mengingat remaja adalah masa transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa maka remaja mempunyai tugas dengan penyesuaian diri yang harus dilakukan, yaitu :
1.Menerima dan mengintegrasikan pertumbuhan badannya dan kepribadian,
2.Menentukan peran dan fungsi seksual yang adekuat dalam kebudayaan dimana dia berada,
3.Mencapai kedewasaan dengan kemandirian, kepercayaan diri dan kemampuan untuk menghadapi kehidupan,
4.Mencapai posisi yang diterima oleh masyarakat,
5.Mengembangkan hati nurani, tanggung jawab, moralitas, dan nilai-nilai yang sesuai dengan lingkungan dan kebudayaan, dan memecahkan problem-problem nyata dalam pengalaman sendiri-sendiri dan dalam kaitannya dengan masyarakat. (Sarwono 2002)

Sedang Havighurst menyampaikan bahwa remaja mempunyai sejumlah tugas-tugas perkembangan yaitu :
1.Perkembangan aspek-aspek biologis,
2.Menerima peranan dewasa berdasarkan pengaruh kebiasaan masyarakat sendiri,
3.Mendapatkan kebebasan emosional dari orang tua dan atau orang dewasa lain,
4.Mendapat pandangan hidup sendiri,
5.Merealisasikan suatu identitas dan dapat mengadakan partisipasi dalam kebudayaan remaja sendiri. (Siti Rahayu, 2001)
Permasalahan Remaja
Berita media massa hilir mudik menyampaikan informasi tentang kelakuan perilaku remaja, yang nota benenya pasti di cetak tebal dengan tulisan kenakalan remaja. Tawuran antar pelajar masuk ke ranah kenakalan remaja, penggunaan obat terlarang juga masuk ke golongan kenakalan remaja, sampai ke hubungan seks sebelum nikah masuk juga ke kenakalan remaja. Pada konteks yang terakhir ini tentang hubungan seks sebelum nikah merupakan masalah yang sangat kompleks karena berdampak luar biasa pada diri remaja itu sendiri. Dampaknya terlebih bagi perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak dikehendaki tersebut, dalam pendidikan akan mengalami putus sekolah, secara emosional meninggalkan dunia remaja yang indah, secara sosial harus siap menjadi ibu yang terlibat dalam aktivitas ibu-ibu kebanyakan lainnya. Belum lagi dampak fisik perempuan yang sedang hamil diusia remaja, dalam kondisi belum matang organ reproduksinya sudah harus mengandung janin.
Fenomena perilaku remaja terutama hubungan seks sebelum menikah ini bisa terjadi karena disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor masa remaja yang merupakan masa transisi dari masa kanak–kanak ke masa dewasa yang ditandai oleh kematangan organ seks untuk siap bereproduksi dengan aktifnya hormon–hormon seksual Maka pada saat ini dorongan seksual pun semakin meningkat. Selain itu, secara psikis, faktor nilai-nilai dan keyakinan pribadi juga sangat berpengaruh. Maraknya pornografi, kurangnya pendidikan seks, kurangnya penghayatan nilai-nilai keagamaan, kurang optimalnya bimbingan dalam keluarga, dan berbagai faktor lainnya akan sangat menentukan bagaimana seseorang memilih perilaku seksualnya.

Penyebab lain dari maraknya perilaku seks bebas adalah kurangnya remaja mendapatkan informasi tentang pendidikan seksual yang tepat dan lengkap (Kompas, 2002). Pemilihan perilaku seksual pada diri remaja menurut Myles, dkk (1993) dipengaruhi oleh dua faktor yaitu : faktor internal (dari dalam diri remaja) dan faktor eksternal (dari luar diri remaja). Dari dalam diri remaja, penentuan mengenai perilaku seksual yang dilakukan tergantung pada harga diri, kemampuan berkomunikasi dan kemampuan mengambil keputusan, sedangkan faktor dari luar diri remaja meliputi perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi, pengaruh media massa, keluarga, teman sebaya, budaya, agama, nilai dan norma masyarakat, serta masih banyak lagi lainnya.

Pada masa remaja, faktor internal dan eksternal ini menjadi sangat kuat pengaruhnya, bahkan yang terkuat sepanjang masa kehidupan seseorang. Salah satu faktor yang sangat memberikan kontribusi yang besar terhadap diri remaja adalah pengetahuan dan informasi (Sahabat Remaja, 1997).
Pada masa sekarang ini, remaja masih bingung mencari tempat yang tepat, yang dapat memberikan informasi tentang penyebab dan akibat perubahan yang terjadi dalam diri remaja. Remaja sebenarnya mengharapkan sumber informasi tentang seksualitas pertama kali dari orang tua (Kompas 1999). Pada umumnya orangtua sendiri kurang mampu menjelaskan seperti yang diinginkan remaja. Sebagaian besar remaja mendapat informasi dari media massa dan teman sebaya (Thornburg,1982). Teman sebaya atau peer groupnya dipandang lebih berpengalaman dan tahu tentang seks. Karena remaja mencari pada sumber yang kurang valid, akibatnya justru bukan sekedar informasi namun juga erotisme yang mereka dapatkan. Bahkan ada kecenderungan bahwa erotisme ini lebih menonjol dibanding dengan informasi bersifat scientificnya. Hal inilah yang justru merangsang remaja utuk berperilaku seks secara aktif, baik yang pemuasannya lewat bantuan orang lain ataupun dengan bantuan orang lain, lewat buku dan film.

Jalur media massapun, dengan kemudahan akses informasi,mereka hanya melihat aspek erotis seks (Kompas, 30 Juni 2002). Para remaja banyak meneria berbagai informasi tentang kenikatan seks dan cinta yang disampaikan melalui majalah, telenovela, internet dan lain sebagainya, sehingga membawa fantasi para remaja berkembang lebih cepat ( Media Indonesia , Mei 2002 ). Karenanya tidak anehlah apabila dalam diri remaja pada umumnya terjadi pergulatan bathin yang semakin mendalam pada remaja antara memenuhi dorongan seksualnya dengan idealisme pribadi, kadar kepercayaan beragama dan kontrol sosial baik berupa norma budaya maupun masyarakat dimana remaja itu berada. Pada posisi inipun remaja seringkali menemukan dirirnya terperangkap diantara pesan-pesan yang saling bertentangan: media massa mendorong mereka mempromosikan perilaku seks, sedangkan para orang dewasa selalu mengatakan tidak.
Mengenal Pubertas
Pubertas merupakan periode transisi dan tumpang tindih. Dikatakan transisi sebab pubertas remaja, disebut anak-anak tidak tepat, sementara dia belum dapat dikatakan remaja. Dikatakan tumpang tindih sebab beberapa ciri biologis-psikologis kanak-kanak masih dimiliki, sementara beberapa ciri remaja juga dimiliki.
Pubertas merupakan periode perubahan dari bentuk tubuh anak-anak ke tubuh orang dewasa. Perubahan sifat dan sikap yang menonjol terutama pada teman sebaya lawan jenis, terhadap keluarga dan anggota keluarga.
Dalam masa pubertas ini mengenal perubahan ciri-ciri seks primer dan ciri-ciri seks sekunder. Ciri-ciri seks primer pada perempuan dtandai dengan haid yang pertama atau disebut dengan menarche yang disertai berpakai perasaan yang tidak enak. Sedangka untuk laki-laki ditandai dengan mimpi basah.
Ciri-ciri seks sekunder untuk perempuan dilihat dari bentuk tubuh yang pada pinggul membesar dab membulat, buah dada yang semakin menonjol, tumbuh bulu disekitar alat kelamin, di ketiak, lengan dan kaki. Pada perempuan suara menjadi lebih merdu, kelenjar keringat lebih aktif disertai dengan tumbuhnya jerawat dan kulit lebih kasar jika dibandingkan dengan masa anak-anak. Untuk laki-laki ciri-ciri seks sekunde r ditandai dengan otot-otot tubuh, dada, lengan, paha dan kaki tumbuh kuat. Pada laki-laki juga tumbuh rambut disekitar alat kelamin, dada, ketiak dan tumbuh kumis. Masa pubertas bagi laki-laki suara menjadi lebih rendah dan pecah, kelenjar keringat lebih aktif disertai dengan tumbuhnya jerawat.
Masa inilah yang menjadikan remaja pada situasi yang sangat labil, situasi sangat genting, juga pada situasi yang indah. Kelanjutan hidup menjadi lebih baik tatkala pada masa remaja digunakan secara tepat dan bertanggung jawab, pengendalian diri dari gejolak masa remaja sangat bergantung dari informasi dan lingkungan pertemanan yang didapat.
Kesehatan Reproduksi Remaja
Masalah perilaku remaja yang mengarah pada hubungan seks diluar nikah merupakan problem sistemik yang berelasi dengan faktor diri remaja dan di luar remaja. Pada uraian awal diatas bahwa masa remaja ditandai dengan perubahan hormon-hormon yang berkaitan dengan seks. Hormon inilah yang akan mempengaruhi perilaku remaja, pada situasi inilah perlunya informasi yang mendorong agar remaja dapat mengelola perilaku secara bertanggung jawab. Informasi yang berkait erat dengan perkembangan seksual dalam ranah pendidikan disebut dengan Pendidikan Seks atau juga dikenal dengan nama Pendidikan Kesehatan Reproduksi.

Kesehatan reproduksi adalah kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang utuh dan bukan hanya secara sempit diartikan tidak adanya penyakit saja, tetapi juga tentang reproduksi tidak sekedar membahas tentang struktur biologis laki-laki dan perempuan dan juga meliputi pengetahuan sistem dan fungsi reproduksi, kurun reproduksi sehat, PMS dan AIDS, mitos dan fakta seksualitas.
Tentang Pendidikan Kesehatan Reproduksi itu sendiri akan menjadi diterima di masyarakat apabila dalam pemaparan informasi secara utuh dan intergral. Pendidikan Kesehatan Reproduksi bukanlah penerangan tentang seks semata, tetapi didalam terdapat unsur penguatan dan pendewasaan pada pola pikir dan tindakan secara bertanggung jawab.
Pendidikan Kesehatan reprodukis akan efektif dan tepat sasaran dapat diberikan dengan cara sebagai berikut :
a.bersikap jujur, realistis, terbuka terhadap masalah seksualitas
b.memberikan informasi yang factual dan dapat dipercaya
c.informasi yang diberikan harus disesuaikan dengan usia dan perkembangan anak
d.mendukung penentuan nilai pribadi mereka tentang seks dengan
e.mempertimbangkan nilai dan norma di sekitarnya serta berperilaku seks yang sehat (secara fisik, sosial dan psikis). (Sahabat Remaja PKBI DIY, 2000: 82)
Hal ini senada dengan Pakar Psikologi Prof. Dr. Sarlito Wirawan di dalam bukunya Psikologi Remaja (2002), secara umum pendidikan seks adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar, yang meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual, dan aspek-aspek kesehatan, kejiwaan dan kemasyarakatan. Masalah pendidikan seks yang diberikan sepatutnya berkaitan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, apa yang dilarang, apa yang dilazimkan dan bagaimana melakukannya tanpa melanggar aturan-aturan yang berlaku di masyarakat.
Untuk menjaga dan memastikan komprehensifitas Pendidikan Seks perlu ada beberapa materi standar yang mewakili seluk beluk kesehatan reproduksi. Minimal ada enam pembahasan yang harus diperhatikan (Tim Sahaja PKBI DIY, 2000; 75 – 76) :
a.Perkembangan manusia : anatomi, reproduksi dan fisiologi
b.Hubungan antar manusia : keluarga, teman, pacaran dan perkawinan
c.Kemampuan personal : nilai, pengambilan keputusan, komunikasi dan negosiasi
d.Perilaku seksual: abstinance dan perilaku seksual lain
e.Kesehatan seksual : Kontrasepsi, pencegahan IMS dan HIV dan AIDS, kekerasan seksual dan Kehamilan yang tidak dikehendaki.
f.Budaya dan masyarakat : peran gender, seksualitas dan agama. [soepri]

Sumber :

Andi Mappiare. (1982) Psikologi Remaja, Usaha Nasional, Jakarta.
Sahabat Remaja PKBI DIY. (2000) Tanya Jawab Seputar Seksual Remaja, Yogyakarta.
Sarlito Wirawan Sarwono.(2002) Psikologi Remaja, PT Raja Grafindo, Jakarta.
Singgih D.Gunarsa. (1991) Psikologi Praktis, Anak, Remaja dan Keluarga.
Siti Rahayu Haditono (2001) Psikologi Perkembangan, Gadjah Mada University Press.
Kompas dan Media Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s