Misteri di Balik Nomor Telepon Haid

Posted: Februari 4, 2010 in kliping

Kamis, 4 Februari 2010 | 15:24 WIB

Kata-kata “Telat Haid 081227644xxx” atau “Telat Haid 081328791xxx” tertempel pada sejumlah tiang rambu-rambu lalu lintas di wilayah Yogyakarta dan Sleman. Kata-kata itu dicetak berhuruf tebal. Ditempel pada posisi vertikal, mencolok, dan sangat mudah dibaca pengendara.

Di sejumlah titik, pemberitahuan yang terbuat dari kertas kuarto dengan bingkai segi empat itu telah robek. Mungkin ulah iseng atau sebel.

Pada beberapa titik, “tempelannya” telah hilang karena tiang lampu diganti dengan tiang baru yang lebih artistik.

Sekilas, orang awam mungkin menganggap tulisan itu benar-benar bermaksud memberi bantuan. Namun, jika dicermati, ada yang aneh dan menggelitik untuk digali.

Rabu (3/2), Kompas menghubungi beberapa nomor yang kebetulan tertempel di dekat perempatan jalan dua kampus utama, yakni Universitas Gadjah Mada dan Universitas Kristen Duta Wacana. Kami berusaha menghubungi-tentu saja dengan menyamarkan sebagai pihak yang ingin dibantu.

Mula-mula susah, telepon tidak langsung diangkat. Setelah mencoba kedua kali baru berhasil. Rata-rata yang menjawab telepon seorang laki-laki dewasa.

Begitu telepon diangkat, mereka langsung paham apa yang kita inginkan. Setelah mengutarakan niat, pertanyaan pertama yang mereka lontarkan hampir sama “Berapa bulan (usia kehamilan)?”

Orang di balik nomor 081328791xxx yang mengaku memiliki nama dengan inisial D, misalnya, menyatakan, pihaknya profesional, janin keluar normal tanpa operasi. Tidak ada efek samping.

Ia juga menyodorkan dua pilihan yang bisa dilakukan calon pasien. Pertama, tindakan melalui bidan. Kedua, bantuan perantaraan obat. Biayanya pun berbeda.

Jika dengan bidan cukup merogoh kocek Rp 2,5 juta. Rp 2 juta jika dengan obat. “Kembali pada mas-nya, mau pesan yang seperti apa?” ujar suara di seberang sana.

Ia pun menyarankan kami merundingkan dengan pasangan. Setelah itu, konsultasi lebih lanjut.

Yang jelas, “eksekusi” kehamilan dilakukan di Yogyakarta. Di mana tempatnya, ia enggan memberi tahu sebelum kami memastikan niat itu.

Tidak puas dengan penjelasan D, kami mencoba nomor yang lain, yakni O81227644xxx yang ternyata ada seseorang berinisial J di balik nomor tersebut. Seperti halnya D, J pun menanyakan usia kehamilan.

Bahkan, ia mencoba meyakinkan apakah kehamilan itu sudah dicek melalui alat uji kehamilan. “Kalau belum, coba besok pagi begitu bangun tidur dicek. Kalau positif, baru dikonsultasikan ke kami,” ujarnya.

Menurut J, proses pengguguran itu dilakukan secara medis. Ada dua cara, yakni dipacu lewat jalan oral dan vaginal.

“Proses kelar dalam 24 jam, tergantung kekuatan kandungan,” katanya. Untuk usia kehamilan sekitar satu bulan, J mematok harga Rp 2,3 juta.

Ketika kami mencoba menawar, J berkilah, “harganya memang segitu. Silakan coba lainnya yang lebih murah kalau ada. Rata-rata sama.”

Kami yang masih penasaran mencoba tanya lebih jauh, termasuk menanyakan soal steril tidaknya tindakan itu. J pun memastikan bahwa penanganan dilakukan steril. Dalam sepekan, pasien dipastikan sudah bisa beraktivitas kembali.

J tidak mau memberitahukan di mana lokasi praktik. Di rumah sakit? J menjawab tidak perlu tahu.

Yang jelas, semua dilakukan secara medis dan tidak sembarangan. J pun meyakinkan bahwa cara seperti itu aman dari penciuman petugas. Ada permintaan

Begitulah, sebuah perkembangan selalu menyisakan realitas yang abu-abu. Pelaksana Daerah Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DIY Supri Cahyono mengatakan, munculnya iklan dan penyedia jasa “memperlancar haid” semacam itu terjadi karena banyak hal. Yang jelas, ada permintaan.

Cara-cara semacam itu mungkin dipandang akhir penyelesaian sebuah persoalan. Soal aman, urusan nanti.

Data PKBI, jumlah remaja yang kemudian hamil di luar nikah saja terhitung banyak. Setiap tahun, mereka menerima konsultasi lebih dari 200 remaja dengan masalah kehamilan di luar nikah.

Jumlah itu lebih besar dibandingkan dengan tahun 1990-an yang kurang dari 50 orang. PKBI DIY menjadi penyangga wilayah dengan cakupan ke timur hingga Tulung Agung, Magelang di sisi utara, dan ke barat hingga Purwokerto.

Munculnya iklan-iklan “jalan pintas” semacam itu menjadi sinyal sosial. Ada masalah di sana.

(WER) “Sekilas, orang awam mungkin menganggap tulisan benar-benar bermaksud memberi bantuan. Namun, jika dicermati, ada yang aneh dan menggelitik untuk digali.” Foto: Kompas/Ferganata Indra Riatmoko Iklan terkait solusi terhadap masalah terlambat datang bulan menempel di berbagai sudut kota. Salah satunya ditemui di perempatan Sagan, Yogyakarta, Rabu (3/2).

sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/04/15243262/misteri.di.balik.nomor.telepon.haid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s