Masih Ada Perbedaan Persepsi Mengenai Seksualitas

Posted: Desember 11, 2009 in kliping

YOGYAKARTA, KOMPAS – Untuk mencegah kekerasan seksual yang semakin banyak terjadi pada anak akhir-akhir ini, pendidikan seks menjadi salah satu upaya preventif terpenting yang dapat dilakukan. Melalui edukasi, anak- anak dikenalkan pada persoalan seksualitas dan ancaman kekerasan seksual yang dapat menimpanya.

Untuk mencegahnya, Manajer Media, Research, and Training Center Rifka Annisa Women’s Crisis Center Nur Hasyim, Rabu (21/3), mengutarakan, edukasi menjadi strategi yang tepat untuk memberi pengetahuan seksualitas pada anak sebagai kelompok target kekerasan. “Dalam arti luas, pendidikan seks tidak terbatas pada institusi pendidikan formal saja, bisa melalui keluarga atau pola asuh,” kata Hasyim.

Seperti diberitakan Kompas (20/3), jumlah kasus kekerasan seksual pada anak di DI Yogyakarta terus bertambah. Sebagian besar pelaku berasal dari lingkungan terdekat anak, bahkan jumlah kasus inses yang dilakukan oleh ayah kandung pun cenderung makin meningkat.

Mengenai materi pendidikan seks sendiri, kata Nur, anak-anak dapat diperkenalkan pada tubuhnya dan bagian-bagian tubuh yang tidak selayaknya ditonton dan disentuh oleh orang-orang asing. Pengetahuan dan penghargaan terhadap tubuh dan organ seks yang diterima anak sejak dini ini akan menyiapkan mereka untuk lebih waspada terhadap ancaman kekerasan seksual.

Supaya lebih efektif, pendidikan seks juga perlu dilaksanakan dalam pendidikan formal di sekolah-sekolah. Namun, sampai saat ini pelaksanaan pendidikan seks dalam muatan lokal di SMP dan SMA yang digagas oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DIY masih menghadapi berbagai tantangan seperti masalah kepadatan jam pelajaran, biaya, dan materi ajar. Persepsi berbeda

Selain itu, masyarakat sendiri masih belum memiliki pemahaman yang sama akan pentingnya pendidikan seks bagi anak-anak. “Masalah seksualitas selalu dikonotasikan dengan hubungan seksual semata. Padahal, pendidikan seks justru membedah konstruksi seksual, tak hanya membicarakan masalah seksual saja. Dibahas juga hal lain seperti relasi seksual dan relasi budaya,” kata Manager Program Youth Center PKBI DIY Soepri Tjahjono. Sosialisasi hak-hak anak pun perlu dilakukan pada orang dewasa.

Dukungan sarana dan prasarana belajar juga diperlukan untuk memudahkan pemahaman anak akan masalah seksualitas. “Saya berharap pemerintah bersama-sama bisa menciptakan alat pembelajaran seks yang benar, yang normatif sesuai usia anak,” ujar Musa Dahwad, Kepala SDN Baciro I Yogyakarta. (AB3)

Sumber:

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/22/jogja/1035175.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s