Angkringan Kang Krasan, Teh Celup

Posted: November 7, 2009 in obrolan

”Weh kang, ada-ada saja ya” aku mulai membuka obrolan.
”Yang mana mas” tanya Kang Krasan
”Itu lho… tidak kalah dengan parpol atau koalisi, pakai deklarasi segala” sambungku sambil mencari-cari bakwan goreng di gerobak Kang Krasan.
”Aalaah.. itu deklarasi poligami, yang kemarin aku lihat di teve” sambung Pak Jo yang ternyata juga konsen tentang persoalan poligami.
”Lha.. anehnya dimana ? … beli apa mbak ?” Kang Krasan sambil tetap siaga melayani pembeli lain.
”Kopi jahe dan nasi bungkus tiga” jawab mbak pembeli baru ini.
”Lhah.. mbak, perempuan kok belinya kopi, dipeseni ya…?” tanya Kang Krasan kembali dengan menggerakkan tangannya mengaduk-aduk kopi.
”Ndak kang, untuk saya sendiri” jawabnya.
”Kang Krasan, saya tanya !” potong Pak Jo.
”Bedanya perempuan dan laki-laki soal kopi itu apa  ?” lanjut Pak Jo.
”Ya.. tidak pas saja, tidak semestinya gitu lho..”jawab Kang Krasan.
”Weh.. salah, kopi, teh, air putih tidak ada hubungannya dengan laki-laki perempuan, itu minuman. Yang menjadikan tidak pas itu kan kita saja.. yang suka lihat laki-laki minum kopi terus lembur dilanjutin nongkrong. Sebenarnya sama saja mau kopi, mau jahe, mau duduk disini di angkringan sama saja” ceramah Pak Jo, tan henti terus mengunyah sate usus.
”Yang jadi masalah kan gini ….” ternyata belum selesai Pak Jo.
”Kita ini lho… yang suka membiasakan kalau laki-laki minum kopi menjadi budaya laki-laki ini yang salah, akibatnya kalau perempuan minum kopi jadi masalah, jadi tidak pas” Pak Jo bicara lantang sambil menunjuk semua laki-laki yang duduk diangkringan.
”Betul pak, saya ini kegemarannya ngopi, karena rasanya segar, tapi kalau beli mesti di salahkan perempuan kok ngopi”
”Lha.. itu… betul kan.. kebiasaan laki-laki ngopi dianggap budaya laki-laki bukan dianggap budaya perempuan.. ini..ini.. yang salah.. yang harus diluruskan” Pak Jo dengan semangat dan hening sesaat.
”Kopi jahe seribu lima ratus, nasi tiga bungkus seribu delapan ratus, jadi semuanya tiga ribu tiga ratus” potong Kang Krasan memecah keheningan setelah suara lantang Pak Jo.
”Ini Kang” sambil perempuan itu mengeluarkan uang lima ribuan.
”ini ya kembaliannya…. terus gimana cara meluruskannya Pak Jo”
Dengan sigap Pak Jo menjawab, ”Ya.. biasa saja orang entah laki-laki dan perempuan asal semua bisa melakukan apa yang bisa dilakukan, anggap aja hal yang wajar.. gitu aja kan beres”.
”Berarti asal mula laki-laki lebih jagoan dari perempuan karena laki-laki sudah dibiasakan sejak dulu kalau ini jatahnya laki-laki dan ini jatahnya boleh laki-laki dan perempuan” kata Kang Krasan sambil menunjuk tehku dan kopinya Kang Wardi.
Obralan semakin seru dengan kesimpulan Kang Krasan, ternyata bukan sekedar kesimpulan tapi sudah menjadi pancingan. Ternyata betul apa Pak Jo menjadi inget dengan awal obrolan tadi tentang deklarari poligami.
”Nah.. itu laki-laki merasa lebih jagoan di dapat melindungi perempuan, awalnya dari sini…”Pak Jo sambil menunjuk bangku angkringan.
”Dari bangku Pak…” tanya Kang Wardi yang dari tadi diam seperti saya mencoba menyambung pembicaraan.
”Bukan dari bangku maksudku…, dari posisi yang enak begini lho… jadi laki-laki mau mengatur segalanya termasuk mengatur lawan jenisnya”
”Nyambung dari rumah tadi.. aku lihat di teve, kalau ada deklarasi poligami, walah-walah” kata Pak Jo yang kelihatannya tidak ingin lupa dengan awal obrolan tadi.
”iya..iya.. aku juga lihat” sambungku untuk meyakinkan yang lain bahwa ada deklarsi poligami yang sudah ada dibeberapa negara termasuk di Indonesia, yang konon katanya sekarang yang sudah bergabung 30 laki-laki dan katanya juga akan tambah lagi.
”Lha itu.. yang menjadikan laki-laki ingin menguasai segalanya, menjadi sok pelindung, jadi merasa bila banyak perempuan yang dilindungi akan menjadi laki-laki yang baik, melindungi apa paling-paling inginnya tetap saja mau ngawinin, ya tho…”
”Betul itu…ujung-ujungnya juga akan ngawinin banyak perempuan, alasannya melindungi.. ah omong kosong”sambung Kang Krasan yang dari tadi menyimak serius.
”Gini.. lho.. mbok sadar saja, memangnya ada, jujur aja perempuan yang bersedia di poligami, laki-lakinya masuk sana keluar sini, emangnya penis laki-laki kayak teh celup” Pak Jo terus berkomentar tentang deklarasi poligami.
”Teh celup, gimana Pak Jo” tanyaku menunjukkan kebingungan arti teh celup yang dimaksud Pak Jo.
”Teh celup itu, yang satu buahnya bisa mencoklatkan beberapa gelas”
”Terus” tanya Kang Wardi
”Iya itu memang enak sebagai perempuan mendapatkan laki-laki yang sukanya mencoklatkan perempuan-perempuan lain, masuk sana, masuk sini” kata Pak Jo.
”Woo.. gitu tho..” jawab serentak saya, Kang Wardi, dan Kang Krasan. [soepri]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s