Pendidikan Seks

Posted: Oktober 26, 2009 in pendidikan seks

Menyoal pendidikan seks berawal dari sikap pro dan kontra di masyarakat sampai pada tingkat pengampu kebijakan berkenaan dengan bentuk dan teknik penyampaian pendidikan seks iru sendiri. Menjadi sebuah kekhawatiran ketika pendidikan seks dengan sangat sederhana hanya mempresentasikan seluk anatomi, proses dan fungsi reproduksi semata dengan tidak secara integral menjelaskan secara utuh dan integratif matari pendidikan seks itu sendiri.
Pendidikan seks bukanlah penerangan tentang seks semata, tetapi didalam terdapat unsur penguatan dan pendewasaan pada pola pikir dan tindakan secara bertanggung jawab.

Pendidikan Seks pada dasarnya bertujuan untuk memberikan informasi yang benar tentang segala hal yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja. Dari pendidikan ini diharapkan remaja memahami seluk beluk anatomi dan fungsi alat reproduksinya sehingga bisa memikirkan lebih jauh resiko apa yang akan didapat ketika berpeilaku seksual. Pendidikan seks yang efektif dan tepat sasaran dapat diberikan dengan cara sebagai beikut (Tim Sahabat Remaja PKBI DIY, 2000: 82)
a. bersikap jujur, realistis, terbuka terhadap masalah seksualitas
b. memberikan informasi yang factual dan dapat dipercaya
c. informasi yang diberikan harus disesuaikan dengan usia dan perkembangan anak
d. mendukung penentuan nilai pribadi mereka tentang seks dengan
e. mempertimbangkan nilai dan norma di sekitarnya serta berperilaku seks yang sehat (secara fisik, sosial dan psikis).

Hal ini senada dengan Pakar Psikologi Prof. Dr. Sarlito Wirawan di dalam bukunya Psikologi Remaja (2002), secara umum pendidikan seks adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar, yang meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual, dan aspek-aspek kesehatan, kejiwaan dan kemasyarakatan. Masalah pendidikan seks yang diberikan sepatutnya berkaitan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, apa yang dilarang, apa yang dilazimkan dan bagaimana melakukannya tanpa melanggar aturan-aturan yang berlaku di masyarakat.

Untuk menjaga dan memastikan komprehensifitas Pendidikan Seks perlu ada beberapa materi standar yang mewakili seluk beluk kesehatan reproduksi. Minimal ada enam pembahasan yang harus diperhatikan (Tim Sahaja PKBI DIY, 2000; 75 – 76) :
a. Perkembangan manusia : anatomi, reproduksi dan fisiologi
b. Hubungan antar manusia : keluarga, teman, pacaran dan perkawinan
c. Kemampuan personal : nilai, pengambilan keputusan, komunikasi dan negosiasi
d. Perilaku seksual: abstinance dan perilaku seksual lain
e. Kesehatan seksual : Kontrasepsi, pencegahan IMS dan HIV dan AIDS, kekerasan seksual dan Kehamilan yang tidak dikehendaki.
f. Budaya dan masyarakat : peran gender, seksualitas dan agama.

Pendidikan Seks merupakan cara pengajaran atau pendidikan yang dapat menolong remaja untuk menghadapi masalah hidup yang bersumber pada dorongan seksual. Dengan demikian Pendidikan Peks ini bermaksud untuk menerangkan segala hal yang berhubungan dengan seks dan seksualitas dalam bentuk yang wajar.
Menurut Singgih, D. Gunarsa, penyampaian materi Pendidikan Seks ini seharusnya diberikan sejak dini ketika anak sudah mulai bertanya tentang perbedaan kelamin antara dirinya dan orang lain, berkesinambungan dan bertahap, disesuaikan dengan kebutuhan dan umur anak serta daya tangkap anak ( dalam Psikologi praktis, anak, remaja dan keluarga, 1991). Dalam hal ini Pendidikan Seks idealnya diberikan pertama kali oleh orangtua di rumah, mengingat yang paling tahu keadaan anak adalah orangtuanya sendiri. Tetapi sayangnya di Indonesia tidak semua orangtua mau terbuka terhadap anak di dalam membicarakan permasalahan seks. Selain itu tingkat sosial ekonomi maupun tingkat pendidikan yang heterogen di Indonesia menyebabkan ada orang tua yang mau dan mampu memberikan informasi tentang seks tetapi lebih banyak yang tidak mampu dan tidak memahami permasalahan tersebut. Dalam hal ini maka sebenarnya peran dunia pendidikan sangatlah besar, sudah saatnya pengampu kebijakan memberikan respon yang positif dengan memberikan ruang pelajaran mandiri sebagai jawaban kebutuhan Pedidikan Seks untuk remaja. [soepri]

Sumber :

Sahabat Remaja PKBI DIY. (2000) Tanya Jawab Seputar Seksual Remaja, Yogyakarta.
Sarlito Wirawan Sarwono.(2002) Psikologi Remaja, PT Raja Grafindo, Jakarta.
Singgih D.Gunarsa. (1991) Psikologi Praktis, Anak, Remaja dan Keluarga.

Komentar
  1. ramadani ihsany mengatakan:

    makasih infonya, mohon memuat yang lainnya lagi. ini bermanfaat untuk bahan kami mengajar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s