Penanganan Kesehatan Reproduksi, adakah perubahan kebijakan?

Posted: Oktober 25, 2009 in kliping

Penanganan Kesehatan
Reproduksi, adakah perubahan
kebijakan?
(Dari Diskusi Setengah Hari “Meneropong Kebijakan dan Pelaksanaan
Program Kesehatan Seksual dan Reproduksi Pasca Gempa di DIY)

Kesehatan seksual dan reproduksi
Selanjutnya yang terpenting, cukup adil genderkah
merupakan salah satu yang terpenting
kegiatan program dan proses kegiatan tersebut?
dalam kehidupan manusia. Dalam kondisi
apapun masalah ini harus diperhatikan, tidak
Peserta yang hadir dalam diskusi ini terdiri dari
terkecuali ketika bencana melanda. Seringkali
beberapa instansi seperti Dinas Kesehatan (Dinkes),
masalah reproduksi tidak menjadi prioritas bagi
BKKBN, PKK Kesehatan, anggota kelompok kerja
penanganan bencana karena dianggap ada persolan
gender, UNFPA dan warga korban gempa.
lain yang lebih diutamakan. Dan inilah yang dialami
Sedangkan narasumbernya adalah Dewi Marhaeni
banyak perempuan korban gempa 27 Mei lalu,
Diah Herawati (Dinkes Kabupaten Bantul), Nanis
persoalan kesehatan reproduksi begitu lambat
Budiningsih (Dinkes DIY), Soepri Tjahjono (PKBI
penanganannya.
DIY) dan Martha Santoso Ismail (UNFPA-Indone-
sia).
Inilah yang menjadi catatan karena
sesungguhnya persoalan kesehatan reproduksi dan
Diskusi yang berkembang selama seminar,
seksual begitu dekat di dalam kehidupan kita, seperti
menurut Nanis kebijakan dan pelaksanaan program
terlihat bagaimana menyelamatkan persalinan,
kesehatan seksual dan reproduksi pasca gempa ini
penanganan perempuan hamil, gangguan alat
tidak ada perbedaan, namun dalam pelaksanaan
reproduksi, informasi seks aman dan lain sebagainya.
sedikit berubah. Misalnya, dalam upaya menangani
kesehatan reproduksi pasca gempa ini yakni
Berkaitan dengan itu Gender working Group
melakukan survei dan sosialisasi bagaimana cara dan
(GWG) yang diwakili Yayasan Kembang
mengetahui tempat mendapatkan pelayanan. Hal ini
bekerjasama dengan UNFPA (United Nation Popu-
menyangkut penyediaan pelayanan kesehatan dan
lation Fund) mengadakan diskusi setengah hari
biaya pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak. Dalam
“Meneropong Kebijakan Pelaksanaan Program
penyediaan biaya kesehatan dengan adanya voucher
Kesehatan Seksual dan Reproduksi Pasca gempa di
bagi ibu hamil, serta persalinan gratis bagi korban
DIY”. Adapun tujuan diskusi ini adalah melihat
bencana yang mendapat rujukan.
sejauhmana pemerintah menangani persoalan
kesehatan reproduksi dan seksual pasca gempa.
Upaya lain mengenai kesehatan seksual
Selain itu banyak hal yang ingin diketahui seperti;
menurut Nanis, sosialisasi seks aman dan nyaman
adakah perubahan kebijakan mengenai program
pada situasi gempa. Hal ini juga berkaitan dengan
kesehatan reproduksi? Jika ada, apa alasan
pengadaan bilik mesra di daerah bencana yang
perubahan itu dan bagaimana bentuk perubahan itu?
kontrolnya dipegang oleh ketua RT setempat.

Di sisi lain, dalam diskusi Dewi Marhaini
Selanjutnya dalam diskusi juga disinggung
menampilkan sejumlah foto tentang kondisi
tentang banyak ibu hamil berumur di bawah 20 tahun.
Puskesmas yang rusak akibat gempa yakni Puskesmas
Hal ini perlu ditindaklanjuti dan salah satunya harus
Jetis II dan Puskesmas Pundong. Data lain yang
dilihat bahwa persoalan ini, kesehatan reprroduksi dan
dipaparkan yakni tentang jumlah ibu hamil yang
seksual, sebaiknya diatur secara terintegrasi. Sehingga
meninggal sebanyak 16 orang, abortus 4 orang dan
bahwa kesehatan reproduksi bukan semata milik dinas
ibu hamil cacat sebanyak 3 orang. Data yang
kesehatan tetapi juga dinas pendidikan serta
mengejutkan menurut laporan dari puskesmas, banyak
departemen agama. Persoalannya apa? Ketika
ibu hamil di bawah 20 tahun dan adanya korban
informasi atau akses informasi mengenai kesehatan
perkosaan.
seksual dan reproduksi tidak diberikan kepada mereka
yang seksual aktif, maka kemungkinan terjadi
Diskusi selanjutnya kebanyakan menyorot data
kehamilan pada remaja akan tinggi.
temuan Dewi. Sebagai wakil Dinas Kesehatan Bantul
yang memaparkan tentang hasil temuan lapangan
Pengetahuan tentang kesehatan seksual dan
banyaknya ibu hamil memilih ke bidan swasta dari
reproduksi pada kalangan remaja menjadi bagian dari
pada puskesmas. Timbul pertanyaan dari peserta
diskusi ini, bahwa informasi tersebut sangat penting
mengapa sampai banyak ibu hamil memilih ke bidan
terutama bisa menjadi bagian pengetahuan di sekolah
misalnya.
Banyak faktor menjadi penyebab persoalan itu
Diskusi berlanjut tentang ke persoalan alat
di antaranya; bisa karena pelayanan, karena pelayanan
kontrasepsi yang menurut salah seorang peserta dari
bidan swasta jauh lebih baik dari pada di puskesmas,
BKKBN bahwa pendistribusian alkon (alat
atau karena faktor jarak yang lebih dekat ke bidan,
kontasepsi) sudah diserahkan ke masing-masing
atau karena faktor waktu karena kalau ke bidan swasta
kabupaten. Namun perlu ada monitoring tentang
waktunya bisa lebih mudah, kapan saja.
jumlah dan pendistribusian untuk mengetahui apakah
tepat sasaran atau tidak.
Lain halnya dengan Marta dari UNFPA, ia
menjelaskan bahwa masalah kesehatan reproduksi di
Dalam diskusi dengan peserta juga disinggung
pengungsian ini memang seringkali terlupakan. Padahal
bahwa penggunaan alkon perlu ada partispasi laki-
faktanya, persalinan akan terus terjadi dan kebutuhan
laki untuk ber-KB dan tidak melulu perempuan
alat kontrasepsi tetap ada. Begitu juga dengan sistem
dijadikan sasaran. Hal ini untuk menumbuhkan rasa
yang ada seringkali tidak siap untuk memenuhi
keadilan karena selama ini memang tugas reproduksi
kebutuhan kesehatan reproduksi.
sudah diemban perempuan mulai dari kehamilan,
persalinan hingga penyusuan. Alasan tidak bisa
Tentang program kespro (kesehatan
mendorong laki-laki untuk menggunakan alkon sulit
reproduksi) di DIY dan Jawa Tengah yang berada di
karena hanya ada dua metode bagi laki-laki juga tidak
bawah dukungan UNFPA antara lain fasilitas
adil, karena jika dapat terbangun hubungan egalitier
kesehatan dan dapat memberikan pelayanan kesehatan
antara suami istri, pasti laki-laki akan rela melakukan
reproduksi yang berkualitas. UNFPA juga memberikan
peran serta dalam ber-KB.
pengadaan reproductive health kit, polindes kit, peralatan
non medis penunjang pelayanan serta dana operasional
Sebelum acara berakhir, masih ada satu sesi
pelayanan kesehatan reproduksi. Selain itu perempuan,
lagi yakni perumusan diskusi oleh peserta, namun
remaja dan bayi baru lahir mendapat paket keperluan
sayang waktu yang tersedia tidak cukup. Sehingga,
individu untuk memelihara kebersihan dan sanitasi
untuk mengatasi masalah tersebut penyelenggara akan
melalui distribusi kit ibu hamil, bersalin, bayi dan hy-
merumuskan dan kemudian dikirimkan ke masing-
giene kit.
masing peserta.(may)

sumber :

Edisi 101 September 2006
NEWSLETTER
PUSAT MEDIA
Untuk WARTAWAN

Komentar
  1. Frischa She mengatakan:

    rincian penanganannya tolong dong di tampilkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s