IMG_0004

Gambar  —  Posted: Juni 13, 2016 in kliping

smk 3 wonosariWONOSARI (KRjogja.com) – SMK Negeri 3 Wonosari memiliki program ekstra kurikuler berupa Pusat Informasi dan Konseling-Remaja (PIK-R). Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada para siswa tentang kesehatan reproduksi, maupun pemahaman tentang resiko penularan penyakit kelamin, informasi seputar HIV/Aids sekaligus untuk mencegah terjadinya hamil diluar nikah.

PIK-R Sehat Masa Depan (Sedan) SMK Negeri 3 Wonosari dievaluasi oleh Tim Penilai Lomba PIK-R tiongkat DIY, Kamis (26/03/2015). Tim evaluasi yang terdiri dari Supri Cahyono relawan PKBI DIY, Nining Tunggal, Pembina PIK mahasiswa dan Iwang Sewoko dan BKKBN DIY, disambut oleh Kepala Badan Pemberdayaan masyarakat Perempuan dan KB Sujoko SSos MSi, Camat Wonosari Drs Iswandoyo MSi,  Kepala Puskesmas II Wonosdari dan sejumlah pejabat di Gunungkidul.

Menurut Kepala SMK 3 Wonosari Dra Susiyanti MPd, siswa SMK yang merupakan usia remaja sangat beresiko terhadap berbagai masalah kesehatan reproduksi, dan pergaulan bebas. Lewat kegiatan PIK-R diharapkan siswa menyikapi perubahan memasuki usia remaja akhir, sehingga mereka akan memahami sendiri tantang kesehatan reproduksi, dengan menghasilkan berbagai inovasi. Selain itu sekolah ini juga menrapkan inovasi toilet bersih, sehat dan jujur yang merupakan kolaborasi dengan kesehatan reproduksi.

Ketua Tim Penilai PIK-R DIY Supri Cahyono mengapresiasi dengan kegiatan posiitif yang dilakukan para siswa di sekolah ini lewat PIK-R. Apalagi kegiatan ini masuk ekstra kurikuler yang sulit ditemui disekolah lain. Apalagi siswa SMK dituntut untuk melakukan praktek kerja lapangan (PKL) di luar sekolah yang jauh dari pengawasn guru dan orang tua. “Sangat tepat jika siswa dibekali  dengan pemahaman pentingnya PIK-R, sehingga bisa menjaga dirinya sendiri,” ujarnya. (Awa)

Sumber : http://krjogja.com/read/254010/pik-r-smk-3-wonosari-maju-tingkat-provinsi.kr

Penilaian PIK-R di MAN Yogyakarta I

Posted: Januari 20, 2016 in kliping

pikr-man 1Yogyakarta – Tim Penilai dari BKKBN DIY untuk lomba Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) berkunjung di MAN Yogyakarta I, Rabu (25/3). Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 09.00 sampai pukul 10.00 WIB di Aula MAN Yogyakarta I.

Turut hadir dalam acara ini Imam Khoiri dari Kanwil Kemenag DIY,  Jalaludin SSos camat  Gondokusuman, Basori Alwi MA  dari Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta, Dwi Ewinayati dan Eny Retnowati dari Kantor KB Kota Yogyakarta.

Sebelum penilaian, para tim penilai dan tamu yang hadir disambut dengan penampilan Grup Hadroh Kasyiful Kurab MAN Yogyakarta I.  Jalaludin SSos selaku Camat  Gondokusuman dalam sambutannya menyampaikan bahwa usia remaja merupakan tahapan usia yang sangat krusial, maka adanya PIK-R di MAN Yogyakarta I menjadi pioneer untuk mendampingi para siswa dalam perkembangannya. “Semoga penilaian pada kali ini akan membawa hasil yang terbaik, dan sampai ke tingkat nasional,” katanya.

Sementara itu Imam Khoiri menyampaikan bahwa MAN Yogyakarta I mempunyai sejarah yang panjang.  Mulai dari SGHA tahun 1950 – 1954, lalu berubah menjadi PHIN dari tahun 1954-1978, MAN mulai tahun 1978 sampai sekarang. Tentunya lamanya waktu menjadikan madrasah ini mempunyai kekayaan pengalaman dan kematangan di antara madrasah yang lain hingga MAN Yogyakarta I mendapat sertifikat ISO 9001:2008 PT TUV Rheinland Jerman dan menjadi Rintisan Madrasah Unggulan (RMU). Hal yang penting dari kegiatan ini adalah sebagai salah satu upaya untuk membentuk karakter. “Semoga BKKBN bisa bersinergi dengan MAN Yogyakarta I dalam pembentukan karakter,“ pesannya.

Kemudian Rodhiana  Tim Penilai dari BKKBN DIY menyampaikan  bahwa perlombaan ini bukan semata-mata untuk mencari juara 1, tetapi lebih kepada pembinaan  terhadap PIK-R yang  ada di MAN Yogyakarta I.  PIK-R di MAN Yogyakarta I, baru berumur dua tahun, dan baru masuk kategori Tumbuh. Dalam PIK-R ada tiga tingkatan, pertama Tingkat Tumbuh, kedua Tegak, dan ketiga Tegar.  “Semoga bisa masuk ke tingkat nasional”, kata Rodhiana.

Isni Lestari SPd  guru BK dan Pembina PIK-R berharap, PIK-R MAN Yogyakarta I, dengan nama PIK-R EXALTA ini dapat lolos di tingkat provinsi dan berlanjut ke tingkat nasional.

“Keberadaan PIK-R di MAN Yogyakarta I sangat bermanfaat dan membantu para siswa. Ada beberapa siswa terkadang “malu” berkonsultasi  ke BK, tetapi dengan adanya PIK-R ini mereka mendapat informasi dan konseling dari temannya sendiri,” jelasnya.(dzl)

Sumber : http://yogyakarta.kemenag.go.id/index.php?a=berita&id=248285

pikr-man wates 1

Wates – Siswa MAN Wates 1 berhasil menjuarai lomba Pusat Informasi Konseling Remaja Tingkat Kabupaten Kulon Progo  Tahap Tumbuh dan selanjutnya berhak untuk maju ke tingkat DIY.

Drs H Suharyanto MA dalam sambutan penerimaan tim Penilai tingkat DIY di panggung terbuka MAN Wates 1, Senin (23/3), menyampaikan bahwa siswa MAN Wates 1 terdiri dari 133 siswa dan 286 siswi. Meski merupakan sekolah berbasis agama, tetapi perlu disadari bahwa siswa-siswinya seperti halnya remaja yang lain. Dari data-data masalah Bimbingan Konseling madrasah, ditemukan adanya siswa yang pacaran, terkena pengaruh media diantaranya penyalahgunaan HP dan akses internet. “Tentu akan menjadi keprihatinan kita jika tidak segera ditindaklanjuti. Maka untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, MAN Wates 1 bekerja sama dengan instansi-instansi terkait, khususnya Dinas Kesehatan, Kepolisisan, BNN, PKBI, dan KUA, mengadakan Penyuluhan Kespro, Tata tertib Berlalu lintas, Napza, dan persiapan Nikah,” kata Suharyanto.

 

Lebih lanjut Suharyanto mengatakan bahwa MAN Wates 1 perlu untuk masuk dan berperan aktif dalam kegiatan Pusat Informasi dan Konseling Remaja MAN Wates  1 yang diberi nama PIK R Mantessa, yaitu suatu wadah kegiatan program PKBR (Penyiapan Kehidupan Berkeluarga Bagi Remaja) yang dikelola dengan semangat dari, oleh, dan untuk remaja, yaitu siswa-siswi MAN Wates 1 guna memberikan pelayanan informasi dan konseling kesehatan reproduksi serta penyiapan kehidupan keluarga dengan metode pair educator atau pendidikan oleh sebaya.

Program Penyiapan Kehidupan Berkeluarga Bagi Remaja yang dilaksanakan di MAN Wates 1 berkaitan dengan bidang transisi kehidupan remaja, yakni mempraktikkan hidup secara sehat atau practice healthy life. Bidang kehidupan lainnya yang akan dimasuki oleh remaja sangat ditentukan oleh berhasil tidaknya remaja mempraktikkan kehidupan yang sehat. “Dengan kata lain, apabila remaja gagal berperilaku sehat, kemungkinan besar remaja bersangkutan akan gagal pula pada bidang kehidupan yang lain,” pungkas Suharyanto.

sumber : http://yogyakarta.kemenag.go.id/index.php?a=berita&id=247689

Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) sebagai Salah Satu Strategi

Membangun Pengetahuan Siswa

 

Paradigma lama tentang proses pembelajaran yang bersumber pada teori tabula rasa

John Lock dimana pikiran seorang anak seperti kertas kosong dan siap menunggu coretan-

coretan dari gurunya sepertinya kurang tepat lagi digunakan oleh para pendidik saat ini.

Tuntutan pendidikan sudah banyak berubah. Pendidik perlu menyusun dan melaksanakan

kegiatan belajar mengajar dimana anak dapat aktif membangun pengetahuannya sendiri. Hal

ini sesuai dengan pandangan kontruktivisme yaitu keberhasilan belajar tidak hanya

bergantung pada lingkungan atau kondisi belajar, tetapi juga pada pengetahuan awal siswa.

Belajar melibatkan pembentukan “makna” oleh siswa dari apa yang mereka lakukan, lihat,

dan dengar.

Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran yang dikembangkan

dari teori kontruktivisme karena mengembangkan struktur kognitif untuk membangun

pengetahuan sendiri melalui berpikir rasional

  1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif

Sistem pembelajaran gotong royong atau cooperative learning merupakan sistem

pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama

siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur. Pembelajaran kooperatif dikenal dengan

pembelajaran secara berkelompok. Tetapi belajar kooperatif lebih dari sekedar belajar

kelompok atau kerja kelompok karena dalam belajar kooperatif ada struktur dorongan atau

tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka

dan hubungan yang bersifat interdepedensi efektif diantara anggota kelompok

. Hubungan kerja seperti itu memungkinkan timbulnya persepsi yang positif tentang apa

yang dapat dilakukan siswa untuk mencapai keberhasilan belajar berdasarkan kemampuan

dirinya secara individu dan andil dari anggota kelompok lain selama belajar bersama dalam

kelompok. Untuk mencapai hasil yang maksimal, maka harus diterapkan lima unsur model

pembelajaran gotong royong, yaitu:

  1. Saling ketergantungan positif.
  2. Tanggung jawab perseorangan.
  3. Tatap muka.
  4. Komunikasi antar anggota.
  5. Evaluasi proses kelompok
  6. Karakteristik Pembelajaran Kooperatif

Karakteristik pembelajaran kooperatif diantaranya:

  1. Siswa bekerja dalam kelompok kooperatif untuk menguasai materi akademis.
  2. Anggota-anggota dalam kelompok diatur terdiri dari siswa yang berkemampuan

rendah, sedang, dan tinggi.

  1. Jika memungkinkan, masing-masing anggota kelompok kooperatif berbeda suku,

budaya, dan jenis kelamin.

  1. Sistem penghargaan yang berorientasi kepada kelompok daripada individu.

Selain itu, terdapat empat tahapan keterampilan kooperatif yang harus ada dalam

model pembelajaran kooperatif yaitu:

  1. Forming (pembentukan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk membentuk

kelompok dan membentuk sikap yang sesuai dengan norma.

  1. Functioniong (pengaturan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk mengatur

aktivitas kelompok dalam menyelesaikan tugas dan membina hubungan kerja sama

diantara anggota kelompok.

  1. Formating (perumusan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk pembentukan

pemahaman yang lebih dalam terhadap bahan-bahan yang dipelajari, merangsang

penggunaan tingkat berpikir yang lebih tinggi, dan menekankan penguasaan serta

pemahaman dari materi yang diberikan.

  1. Fermenting (penyerapan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk merangsang

pemahaman konsep sebelum pembelajaran, konflik kognitif, mencari lebih banyak

informasi, dan mengkomunikasikan pemikiran untuk memperoleh kesimpulan.

  1. Teknik Pembelajaran Kooperatif

Teknik pembelajaran kooperatif diantaranya:

  1. Mencari Pasangan

– Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep.

– Setiap siswa mendapat satu buah kartu.

– Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan

kartunya.

  1. Bertukar Pasangan

– Setiap siswa mendapatkan satu pasangan.

– Guru memberikan tugas dan siswa mengerjakan tugas dengan pasangannya

– Setelah selesai, setiap pasangan bergabung dengan pasangan lain.

– Kedua pasangan tersebut bertukar pasangan kemudian saling menanyakan dan

mengukuhkan jawaban.

– Temuan baru yang diperoleh dari pertukaran pasangan kemudian dibagikan kepada

pasangan semula.

 

 

  1. Kepala Bernomor

– Siswa dibagi dalam kelompok dan setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat

nomor.

– Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.

– Kelompok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan

setiap anggota kelompok mengetahui jawaban ini.

– Guru memanggil salah satu nomor. Siswa dengan nomor yang dipanggil

melaporkan hasil kerja sama mereka.

  1. Keliling Kelompok

– Salah satu siswa dalam masing-masing kelompok memulai dengan memberikan

pandangan dan pemikirannya mengenai tugas yang sedang dikerjakan.

– Siswa berikutnya juga ikut memberikan kontribusinya.

– Demikian seterusnya. Giliran bicara bisa dilaksanakan menurut arah perputaran

jarum jam atau dari kiri ke kanan.

  1. Kancing Gemerincing

– Guru menyipkan satu kotak kecil berisi kancing-kancing.

– Setiap siswa dalam kelompok mendapatkan dua atau tiga buah kancing.

– Setiap kali seorang siswa berbicara, dia harus menyerahkan salah satu kancingnya.

– Jika kancingnya sudah habis, dia tidak boleh berbicara lagi sampai kancing semua

rekannya habis.

  1. Dua Tinggal Dua Tamu

– Siswa bekerja sama dalam kelompok berempat.

– Setelah selesai, dua orang dari setiap kelompok meninggalkan kelompoknya dan

bertamu ke kelompok yang lain.

– Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan

informasi ke tamu mereka.

– Tamu mohon diri dan kembali ke kelompoknya kemudian melaporkan hasil

temuannya.

– Kelompok mencocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka.

Pustaka

Lie, A. (2002) Cooperative Learning Mempraktikan Cooperative Learning di Ruang-ruang

Kelas. Jakarta: Grasindo.

 

Huda, M. (2012) Cooperative Learning, Metode, Teknik, Struktur dan Model Penerapan

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Suprijono, A. (2012) Cooperative Learning, Teori dan Aplikasi Paikem: Pustaka Pelajar.

 

Praktik Konseling untuk memecahkan masalah mahasiswa
Tugas yang harus dilakukan.
1. Menyusun konseling dalam bentuk skenario dialog percakapan antara konselor dengan klien (dosen dengan mahasiswa) kurang lebih 10 menit.
2. Sebelum menyusun dialog harus membuat dulu artikel tentang masalah yang akan di konseling kan kepada mahasiswa.
3. Tugas dikumpul sebelum praktik dilakukan di jadikan satu antara artikel dan skenario dialog. diberi sampul dengan judul masalah (sampul tidak dijid dan tidak dilapisi plastik)
4. Jadwal praktik akan dilakukan di saat jam perkuliahan, akan dilakukan pada pertemuan ke 4 dan ke 5 mata kuliah Psikologi dan BK dosen pengampu Soepri Tjahjono.

terima kasih.

file pembagian tugas klik tugas kelas F sem 7 – 2014

contoh pengerjaan tugas klik contoh tugas artikel dan dialog

silahkan klik ppt

Kewirausahaan dan Kewirausahaan dalam Kebidanan

Kepemimpinan

Analisis SWOT

Memperoleh modal

Mengajukan pinjaman

selanjutnya pelajari : pengantar kewirausahaan, analisis swot, keuangan, dan dinamika dalam presentasi kelompok.