Keterampilan Observasi

Posted: Juni 14, 2013 in kuliah komunikasi dan konseling

DSCF2011Praktik Kebidanan memerlukan kecermatan dalam melakukan pengamatan dan penilaian terhadap pasien, dasar penilaian inilah maka tindakan akan dilakukan. Ketepatan tindakan sangat ditentukan oleh kemampuan bidan melakukan observasi menyeluruh baik langsung ataupun tidak langsung kepada pasien. Observasi merupakan pengamatan dari observer terhadap lingkungan atau kegiatan yang sedang berjalan, yaitu dengan mengumpulkan data mengenai apa yang sebenarnya dilakukan, mengamati pengaruh yang ditimbulkannya ,memahami pesan yang dikirimkan misalnya cara berpakaian atau posisi duduk, dan sikap yang menegaskan, menolak, ataupun melihat kembali tentang apa saja yang telah ditemukan lewat wawancara atau kuesioner.

Melatih kepekaan observasi adalah keteramilan dasar dalam membina komunikasi efektif. Yang perlu kita observasi adalah tingkah laku verbal, non verbal dan kesenjangan antara tingkah laku verbal dan non verbal.

Bidan perlu mengamati tingkah laku verbal dan non verbal untuk mengidentifikasi pesan- pesan yang tidak sinkron/ tidak sejalan dan campur aduk. Seorang bidan yang tajam pengamatannya akan mengetahui bahwa ada beberapa konflik atau ketidaksesuaian antara tingkah laku verbal dan non verbal, antara apa yang diucapkan dan dikerjakan.

 

Keterampilan Observasi

Tingkah laku/komunikasi non verbal

Komunikasi non verbal, memberikan arti pada komunikasi verbal. Dengan kata lain komunikasi verbal dan non verbal merupakan kegiatan yang saling melengkapi dan selalu dilakukan secara bersamaan. Komunikasi nin verbal dapat berbentuk bahasa tubuh, tanda, tindakan/ perbuatan atau objek.

Bahasa Tubuh, Bahasa tubuh ini meliputi ekspresi wajah, kontak mata, sentuhan, postur tubuh dan gaya gaya berjalan, sound, gerak isyarat.

Tanda, Tanda dalam komunikasi non verbal menggantikan kata- kata misalnya bendera, rambu- rambu lalu lintas, dan lain-lain.

Tindakan atau perbuatan, tindakan atau perbuatan secara khusus tidak menggantikan kata- kata tetapi mengandung makna, misalnya pakaian, aksesori dandan, dan lain-lain. Melihat pakaian atau aksesoris dandanan maka bisa kita ketahui sosial ekonomi atau gaya orang tersebut.

Warna, menggunakan warna untuk menunjukkan suasana emosional, citra rasa, keyakinan agama, politik, dan lain-lainl.

Fungsi komunikasi non verbal

Komunikasi non verbal dapat berfungsi untuk

Melengkapi komunikasi verbal, komunikasi non verbal akan melengkapi komunikasi verbal misalkan ada anak kecil yang bertengkar maka, selain dengan kata- kata kita melerai biasanya diikuti dengan mata yang melotot.

Menekankan komunikasi verbal, komunikasi non verbal akan menekankan komunikasi verbal misalkan dalam suatu rapat ada orang yang tidak sependapat maka dia berkata saya akan out dari ruangan sambil menutup pintu keras- keras.

 Membesar- besarkan komunikasi non verbal, komunikasi non verbal akan membesar-besarkan komunikasi verbal misalkan bercerita tentang gurila yang tubuhnya besar sambil melebar- lebarkan tangannya kesamping

Melawan komunikasi verbal, komunikasi non verbal akan melawan komunikasi verbal misalnya saat orang mengatakan tidak malu tetapi ternyata pipi dan wajahnya memerah

Komunikasi verbal

Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata- kata, baik lisan maupun tertulis. Melalui kata- kata, perasaan, emosi, pemikiran, gagasan bisa diungkapkan. Dalam komunikasi verbal ini bahasa memegang peranan penting. Bahasa verbal merupakan sarana utama untuk menyatakan perasaan, pikiran dan maksud kita.

Sampai saat ini belum diketahui secara pasti kapan dan bagaimana bahasa bisa muncul dimuka bumi ini.

Menurut Lary L. Barker bahasa memiliki 3 fungsi yaitu penamaan, interaksi dan transmisi informasi. Komunikasi verbal menyangkut beberapa aspek, yakni : vocabulary (perbendaharaan kata- kata), racing ( kecepataan ), intonasi suara, humor, singkat, timing ( waktu yang tepat ).

 

Pengamatan dan Penafsiran Interprestasi

Pengamatan objektif adalah berbagai tingkah laku yang bisa kita lihat dan kita dengar. Penafsiran atau interpretasi adalah kesan terhadap apa yang kita lihat dan kita dengar. Interpretasi dapat diartikan sebagai suatu usaha konselor untuk memberitahukan suatu arti kepada konseli.

Tahap- tahap interpretasi meliputi :

Refleksi perasaan, yaitu konselor.bidan tidak pergi jauh dari apa yang dikatakan klien, dengan refleksi perasaan apa yang ada dihati klien didengar oleh konselor/bidan.

Klarifikasi, yaitu menjelaskan apa yang tersirat dalam perkataan klien.

Refleksi, yaitu penilaian konselor.bidan terhadap apa yang diungkapkkan klien.

Konfrontasi, yaitu konselor.bidan membawa kepada perhatian cita- cita dan perasaan klien yang tersirat tetapi tidak disadari.

Interpretasi yaitu konselor.bidan memperkenalkan konsep- konsep, hubungan dan pertalian baru yang berakar dalam pengalaman klien.

Keterampilan Membina Hubungan Baik

Dalam konseling kebidanan, bidan yang baik adalah bidan yang selalu berusaha untuk membina hubungan baik dengan klien/pasien. Ini akan terjadi bila ada kerjasama diantara keduanya. Keterampilan membina hubungan baik merupakan dasar dari proses kmonikasi interpersonal bidan dengan klien, dengan petugas kesehatan yang lain, tokoh masyarakat dan sebagainya. Dalam membina hubungan baik perlu memberikan dukungan atau motivasi kepada klien.

 

Tiga hal penting yang perlu diperhatikan agar hubungan baik mantap.

  1. Menunjukkan tanda perhatian verbal
  2.  Menjalin kerjasama
  3. Memberikan respon yang positif, pujian, dukungan.

 Sikap dan perilaku dasar yang dibutuhkan

Keterampilan membina hubunganh baik merupakan dasar dari komunikasi interpersonal. Membina hubungan baik bisa kita awali dengan sikap hangat, menghormati, menerima klien apa adanya, empati dan tulus. Hubungan baik harus dimulai sejak awal hubungan dan tetap dipertahankan seterusnya. Perilaku bidan yang mendukung terciptanya hubungan baik antara lain: memberi salam dengan ramah, mempersilahkan duduk, tidak memotong pembicaraan, menjaga kerahasiaan klien, tidak menilai klien, dan lain sebagaimnya.

Mendengar Aktif

Menjadi pendengar aktif bagi konselor sangat penting karena :

  1. Menunjukkan kepedulian
  2. Merangsang dan memberanikan klien bereaksi secara spontan terhadap konselor,
  3. Menimbulkan situasi yang mengajarkan,
  4. Klien membutuhkan gagasan- gagasan baru

Untuk mencapai tujuan dari komunikasi perlu saling memahami dan saling mendengarkan. Dalam komunikasi terapeutik bidan perlu mempelajari keterampilan mendengar aktif.

 

Untuk menjadi pendengar yang baik konselor harus memiliki kemampuan sebagai berikut :

  1. Mampu berhubungan dengan orang diluar kalangannya
  2. Mempunyai cara- cara untuk membantu klien
  3. Memperlakukan klien untuk menimbulkan respon yang bermakna
  4. Bertanggung jawab bersama klien dalam konseling

Dalam komunikasi interpersonal konseling ada 4 bentuk mendengarkan yang bisa digunakan sesuai situasi yang dihadapi

 

Mendengar pasif ( diam )

Mendengarkan memerlukan keterampilan dan latihan yang terus-menerus, dengan mendengarkan kita akan memperoleh informasi yang lengkap dari klien. Meskipun ini memerlukan kesabaran. Mendengar pasif biasanya dilakukan saat klien menceritakan masalahnya, berbicara tanpa henti, mengebu- gebu dengan perasaan kesal atau sedih, saat klien berhenti bicara sejenak, konselor dapat diam untuk memberi kesempatan klien berpikir dan menenangkan diri.

Memberi tanda perhatian verbal

Konselor perlu memberikan respon pada klien dengan menggunakan kata- kata atau perhatian verbal. Hal ini dilakukan untuk memberikan motivasi pada klien agar semangat dalam berbicara.

Membuka pembicaraan,

Membuka pembicaraan merupakan undangan untuk berbicara bagi  klien/pasien ( mengajukan pertanyaan untuk mendalami dan klarifikasi )

Mengajukan pertanyaan dilakukan apabila konselor belum puas dengan jawaban yang diberikan klien, perlu klarfikasi mengenai hal yang diungkapkan klien, menandakan konselor mengikuti alur pembicaraan klien.

Mendengar aktif

Mendengaraktif memberikan umpan balik/ merefleksikan isi ucapan dan perasaan yaitu merangkum, merefleksikan isi uacapan ( paraphrasing ) dan refleksi perasaan.

 Kemampuan Bertanya

Bertanya merupakan keterampilan yang cukup penting dan strategis dalam proses komunikasi baik dalam memulai, selama proses atau ataupun dalam mengakhiri.

Keterampilan bertanya dapat dikembangkan dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :

  1. Perhatikan suasana konseling klien
  2. Kuasai materi yang berkaitan dengan pertanyaan
  3. Ajukan pertanyaan dengan cara yang jelas dan terarah, serta tidak keluar dari topik
  4. Segera beri respon/ umpan balik terhadap jawaban pertanyaan yang diajukan dengan sikap yang baik dan empati.

 

Jenis pertanyaan

Keterampilan bertanya memerlukan kemampuan konselor/bidan untuk menggunakan jenis-jenis pertanyaan yang akan digunakan untuk mengundang klien/pasien, memperjelas maksud klien/pasien, sampai menutup pembicaraan/konseling dengan klien/pasien.

  1. Pertanyaan tertutup : pertanyaan tertutup yang jawabannya sudah pasti dan ini biasanya hanya membutuhkan jawaban “ ya atau Tidak’ untuk mengumpulkan informasi yang faktual ( biasanya diawal percakapan ).
  2. Pertanyaan terbuka : merupakan pertanyaan yang menuntut jawaban yang menungkinkan adanya berbagai macam jawaban, dan memberi kebebasan menjawab pada klien. Ini akan menuntut partisipasi aktif dari klien dan merupakan cara efektif untuk menggali informasi dari klien.
  3. Pertanyaan mendalam : dimaksudkan untuk menggali lebih mkendalam apa yang sudah diungkapkan oleh klien, sehingga informasi didapat secara lengkap dan mendetail. Melengkapi dan menggali lebih dalam hal- hal yang diperlukan, terutama yang bersifat privasi, untuk melakukan ini memerlukan pendekatan dan keakraban dan didasarkan saling percaya, dimana ini memerlukan teknik yang khusus agar tidak bias.
  4. Pertanyaan mengarahkan/sugestif : mengarahkan berarti Bidan mengarahkan apa yang dibicarakan klien. Tidak selalu tepat digunakan pada berbagai kondisi. Pertanyaan mengarahkan ini sebaiknya dihindari oleh Bidan dan biarkan klien mengungkapkan perasaannya secara spontan.

 

Bertanya efektif

Untuk mendapatkan jawaban yang tepat sesuai dari klien/pasien maka konselor/bidan, maka konselor/bidan harus memberikan pertanyaan yang efektif. Efektif disini berarti mengungkapkan pikiran/gagasan (dalam hal ini pertanyaan) yang disampaikan sehingga mudah dipahami atau dimengerti orang lain.

Ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan agar bidan bisa bertanya secara efektif :

  1. Menggunakan intonasi suara yang menunjukkan perhatian, minat dan keakraban. Jangan terlalu cepat/lambat atau terlalu keras/ lemah. Karena suara yang terlalu lemah dan lambat akan susah didengar dan sering membuat ngantuk karena seolah- olah kita dibuai oleh suara seperti itu. Begitu pula suara yang terlalu keras akan membuat telinga sakit dan mengurangi konsentrasi untuk mendengar.
  2. Menggunakan kata- kata yang difahami klien, karena bahsa- bahasa ilmiah yang tidak dipahami klien tidak akan bisa terjadi atau bahkan menyebabkan salah arti. Ini sering terjadi pada bidan- bidan diawal pekerjaannya. Istilah- istilah kebidanan sering digunakan untuk berkomunikasi dengan klien yang tidak memahami istilah tersebut.
  3. Mengajukan pertanyaan satu persatu. Jangan mengajukan beberapa pertanyaan sekaligus. Karena ini tidak efektif kadang klien hanya ingat pertanyaan yang terakhir saja sehingga kita harus mengulang- ulang lagi. Sehingga ajukan pertanyaan satu persatu agar bisa terjawab sesuai apa yang kita butuhkan.
  4. Menunggu jawaban dengan penuh minat, jangan memotong. Biarkan klien menyelesaikan kalimatnya karena pemotongan ditengah kalimat bisa menimbulkan salah persepsi.
  5. Menggunakan kata- kata yang mendorong klien untuk tetap bicara. Dengan demikian klien merasa diperhatikan dan lebih semangat untuk mengungkapkan pembicaraannya.
  6. Bila harus menanyakan hal yang sangat pribadi, jelaskan mengapa hal itu harus ditanya. Kadang- kadang klien malu untuk mengungkapkan dan menutupi hal- hal tersebut. Dengan penjelasan bahwa hal itu untuk tujuan penyembuhan, dan lain-lain maka klien akan mengungkapkan secara sukarela dan terbuka.
  7. Menghindari penggunaan kata tanya “ mengapa “ karena kemungkinan kata tanya mengapa mengandung arti luas dan dianggap sangat filosofis dan kata tanya mengapa menjadikan klien/pasien sulit menjawab. Karena kehadiran klien/pasien ke konselor/bidan untuk mendapatkan jawaban, tetapi dengan kata tanya “mengapa” seolah-olah klien/pasien diminta untuk menjawab sendiri. [soepri]

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s